Permasalahannya, lanjut Raharjo, justru terletak pada suku bunga, terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang makin tinggi. Suku bunga tinggi tersebut membuat SMF mau tak mau menerapkan tenor pinjaman menjadi makin pendek.
Suku bunga KPR perbankan saat ini memang masih tinggi. Hal itu tercermin dari dua bank, BCA dan BRI yang sama-sama mematok suku bunga di atas 8 persen pada program KPR komersial mereka.
Hingga 30 Oktober 2015 kemarin, BCA menerapkan suku bunga sebesar 9,25 persen tetap (fixed) satu tahun dan dua tahun. Untuk tenor lima tahun dan sepuluh tahun mereka mematok 9,5 persen dan 10 persen.
Sementara suku bunga KPR/KPA BRI adalah 8,5 persen fixed satu tahun lalu meningkat menjadi 9,49 persen dan 9,99 persen fixed dua tahun dan tiga tahun. Selanjutnya menjadi 10,5 persen fixed lima tahun.
Meski begitu, SMF tetap yakin bahwa jumlah target pinjaman pengembang tahun ini akan terealisasi pada akhir Desember nanti.
"Target kami tahun ini Rp 3,5 triliun, sampai september kemarin sudah Rp 2,2 triliun. Hari Senin nanti kami beri BTN Rp 300 miliar sehingga total menjadi Rp 2,7 triliun. Sisanya kami optimistis bisa kejar akhir tahun ini," jelas Raharjo.
Tingginya suku bunga juga berdampak langsung pada calon konsumen yang ingin memanfaatkan fasilitas KPR untuk membeli rumah.
"Sekarang ini kan suku bunga Bank Indonesia (BI) cukup tinggi sehingga bank pun harus memasang suku bunga yang juga pasti lebih tinggi. Pengaruhnya tentu saja langsung ke konsumen yang merasa berat untuk mencicil rumah-rumah atau apartemen," kata Ketua APERSI, Edi Ganefo, Senin (2/11/2015).