Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bekasi Hanya Dapat Sampah dari Jakarta

Kompas.com - 22/02/2014, 19:38 WIB
Tabita Diela

Penulis

BEKASI, KOMPAS.com - Bekasi punya hubungan yang erat dengan Ibu kota Jakarta. Sayangnya, relasi ini tak setara dan saling menguntungkan. Bahkan, selama ini Bekasi tak lebih dari "tempat sampah" Jakarta.

Sebaliknya, Jakarta justru menikmati berbagai keuntungan, melalui pajak dari perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan pabrik dan industrinya di Bekasi.

Pengamat perkotaan dan akademisi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menyatakan hal tersebut kepada Kompas.com, Sabtu (22/2/2014).

Baca juga: Ungkap Kronologi Kasus Nastar Berjamur, Pemilik Clairmont: Kami Dapat Penawaran

Menurut Yayat, setoran pajak perusahaan-perusahaan yang memiliki pabrik, khususnya di Kabupaten Bekasi tidak masuk ke pundi-pundi pemerintah setempat. Pasalnya, kantor pusat perusahaan tersebut berada di Jakarta.

"Bekasi hanya dapat limbah, sampah, dan sejuta masalah. Bekasi justru tertimpa beban dari Jakarta," ujarnya.

Beban yang dimaksud adalah kepadatan dan kemacetan dari para penglaju, serta bencana banjir. Semua ini harus diderita Bekasi lantaran Jakarta membutuhkan tempat tinggal bagi para pekerjanya yang tidak tinggal di kota tersebut. Sementara, Bekasi berada paling dekat dengan Jakarta ketimbang kawasan satelit lainnya.

Baca juga: Profil Surya Sahetapy, Putra Ray Sahetapy yang Berprofesi Dosen di Amerika

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Bekasi, H. Muhyiddin mewakili Pemerintah Kabupaten Bekasi juga sempat mengutarakan keberatannya mengenai hal ini. Mengutip Urbancikarang, Muhyiddin mengatakan bahwa setoran pajak Kabupaten Bekasi setiap tahun ke pemerintah pusat mencapai Rp 60 triliun sampai dengan Rp 70 triliun. Sementara APBD yang diterima Kabupaten Bekasi hanya Rp 4 triliun.

Padahal, Bekasi juga butuh biaya membangun daerahnya. Ada sederetan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Bekasi terlebih dahulu. Contohnya, perbaikan sistem transportasi. Perbaikan ini pun terkendala masalah utama, misalnya keadaan kereta menuju Bekasi yang kini masih tergantung pada jalur regional, serta sulitnya posisi Stasiun Bekasi.

"Letak Stasiun Bekasi tidak berada pada jalur utama. Penataan stasiun Bekasi harusnya terintegrasi dengan angkutan umumnya," ujar Yayat. Yayat juga mengungkapkan harapannya, jika nanti double track dibangun, semoga ada peningkatan jumlah perjalanan.



Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau