Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apersi: Pemerintah Lebih Kreatif Kembangkan Pembiayaan Rumah Subsidi

Kompas.com, 13 Desember 2019, 09:33 WIB
M Latief

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang yang tergabung dalam Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) berharap pemerintah melalui Kementerian pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) lebih kreatif dalam mengembangkan skema pembiayaan rumah subsidi yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Apersi berharap pada 2020 nanti urusan rumah subsidi ada perbaikan. Berdasarkan pengalaman tahun ini banyak kebutuhan MBR tak terakomodasi untuk memiliki hunian, padahal rumah subsidi adalah bagian dari program sejuta rumah (PSR) yang dicanangkan pemerintah.

"Tahun 2020 itu kebutuhannya sebesar 250 ribu unit. Tiap tahun kan kenaikannya 20 ribu unit. Ironisnya, anggaran subsidi melalui skema fasilitas likuditas sebesar Rp9 triliun itu hanya untuk 80 ribu unit," kata Junaidi Abdillah, Ketua Umum Apersi, usai rapat kerja nasional (Rakernas) dan Hut ke 21 Apersi, Rabu (11/12/2019).

Selain itu, lanjut Junaidi, pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2TB) hanya untuk 40 ribuan unit. Dari kedua skema itu, menurut dia, akan habis pada tengah 2020.

Untuk itulah, Apersi berharap pemerintah harus lebih kreatif terkait pembiayaan rumah subsidi agar jumlah unit yang disubsidi lebih banyak.

"Jumlah subsidi tahun depan akan habis lebih cepat waktunya sehingga harus ada jalan ke luar agar pengalaman tahun ini tidak terulang. Pemerintah sudah banyak mengurangi subsidi lain, seperti listrik dan BBM, tapi untuk perumahan jangan," tambah Junaidi.

Junaidi mengatakan, pemerintah harus menghitung lagi dana yang ada dengan melihat potensi dana di pemerintah dan perbankan. Perhitungan itu dibutuhkan untuk mendorong jumlah unit jadi lebih banyak dan tingkat suku bunga acuan tidak memberatkan masyarakat.

Dia mengaku, penambahan anggaran itu sudah diusulkan kepada Dirjen Pembiayaan Kementerian PUPR.

Terkait skema FLPP, tambah Junaidi, tidak akan menambah beban pemerintah karena sifat dananya bergulir. Begitu juga dengan bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2TB). Namun, yang ditakutkan Junaidi skema itu bisa berhenti kapan saja, karena sifatnya berupa pinjaman dari Bank Dunia.

"Kami juga mengusulkan agar anggaran untuk pembangunan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) bisa digulirkan ke FLPP, karena pembangunan PSU bisa dilakukan swadaya oleh pengembang," tambah Junaidi.

Menurut Junaidi, dana PSU dengan anggaran terbatas menyebakan sebagian pengembang tidak bisa menikmati dan ada perasaan tidak adil. Dia berharap dana PSU bisa disatukan dengan dana FLPP agar lebih banyak lagi dana untuk rumah subsidi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau