Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berbanding Terbalik dengan Jakarta, Kota-kota Ini Menurun Populasinya

Kompas.com, 27 Juli 2018, 22:08 WIB
Rosiana Haryanti,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Arus migrasi penduduk global menuju perkotaan semakin tak terbendung. Banyak orang terus berpindah dari area pedesaan ke kota untuk meningkatkan standar hidup. Menurut data PBB, pada tahun 1950, sekitar 30 persen penduduk dunia tinggal di wilayah pedesaan.

Jumlah ini terus meningkat setiap tahun. Tahun 2018, persentase penduduk dunia yang tinggal di daerah kota mencapai 55 persen. Bahkan pada tahun 2050, diprediksi 68 persen masyarakat global tinggal di kawasan perkotaan.

Pertumbuhan penduduk di perkotaan sendiri didorong oleh beberapa faktor. Dua faktor utamanya adalah peningkatan populasi urban dan pergeseran gaya hidup yang mengarah ke perkotaan.

Baca juga: Perlukah Jembatan Penyeberangan Orang di Jakarta?

Kedua faktor ini menambah jumlah penduduk yang tinggal di kota menjadi 2,5 miliar jiwa pada tahun 2050 mendatang, dengan hampir 90 persen pertumbuhan terjadi di Asia dan Afrika.

Beberapa kota di Indonesia juga mengalami pertumbuhan populasi yang signifikan. Jakarta contohnya, mengalami pertambahan penduduk dari 8,39 juta pada tahun 2000 menjadi 10,32 juta jiwa pada tahun 2015.

Kota besar lain seperti Surabaya juga mengalami hal yang sama. Pada tahun 2005 penduduk di ibu kota Jawa Timur ini mencapai 2,68 juta dan bertambah menjadi 2,94 juta pada tahun 2018.

Namun di balik ramainya pemberitaan mengenai tingginya pertambahan populasi, ada beberapa kota yang mengalami penurunan jumlah penduduk.

Ilustrasi kota JakartaSHUTTERSTOCK Ilustrasi kota Jakarta
Kota mengalami penurunan jumlah penduduk

Kota Yichun di China, misalnya telah berubah menjadi kota yang pada penduduknya akibat sumber daya kayu yang melimpah.

Namun pada tahun 2012 hingga 2016, kota itu kehilangan 12 persen dari jumlah populasi warganya karena sumber daya alam yang mulai menipis.

Berkurangnya populasi penduduk perkotaan juga terjadi di beberapa kota di Korea Selatan dan Jepang.

Nagasaki contohnya, pada tahun 2005 kota ini memiliki jumlah penduduk 1,4 juta jiwa. Namun jumlah ini terus berkurang setiap tahun. Pada 2015, penduduk Nagasaki hanya berkisar 1,37 juta jiwa.

Kota Busan juga mengalami hal yang sama. Pada tahun 2005, kota ini memiliki populasi mencapai 3,5 juta jiwa dan berkurang menjadi 3,1 juta jiwa pada tahun 2018. Jumlah ini diperkirakan akan terus menurun hingga mencapai angka 3,2 juta pada tahun 2030.

Detroit di Amerika Serikat juga mengalami tren yang sama. Penurunan jumlah penduduk dimulai dari tahun 1960 dengan jumlah penduduk mencapai 1,6 juta. Tren ini terus berlanjut.

Pada tahun 2010 jumlah penduduk Detroit hanya sebesar 711 ribu jiwa. Tahun 2017 populasi kota ini hanya sebesar 673 ribu saja.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau