Di Negeri Asalnya, Bisnis "Debenhams" Kian Remuk - Kompas.com

Di Negeri Asalnya, Bisnis "Debenhams" Kian Remuk

Haris Prahara
Kompas.com - 06/01/2018, 23:43 WIB
Debenhamsmostluxuriouslist Debenhams

KompasProperti – Bisnis peritel Debenhams semakin temaram. Penjualan dan saham tak lagi berbinar. Masa depan pun dipertanyakan.

Di Indonesia, Debenhams memang telah memutuskan pamit per akhir 2017 lalu. Namun, peritel itu sejatinya masih eksis di negeri asalnya, yaitu Inggris.

Meskipun, kondisi bisnisnya kian lama kian redup. Musim panen liburan akhir tahun saja tak mampu dilewati dengan baik oleh Debenhams.

Baca juga: 2018 Baru Bergulir, Peritel Ini Bersiap Tutup 100 Toko

Penjualan toserba itu melorot 2,6 persen dalam 17 pekan terakhir hingga akhir tahun lalu. Laba pun tergerus.

Pihak Debenhams dalam pernyataan resminya menyebut, capaian keuntungan yang diraih 30 persen lebih rendah dari estimasi. Keuntungan Debenhams pada 2017 dilaporkan sekitar 55-65 juta Poundsterling.

Setali tiga uang dengan kondisi saham mereka. Saham Debenhams anjlok 15 persen per akhir 2017, menyentuh level terendah sejak krisis keuangan 2008 silam.

Data-data di atas menjadi alarm keras bagi Debenhams. Perjuangan bertahan menemui jalan yang semakin terjal.

Diskon besar yang digelar Debenhams pun tak lagi mampu menggoda pembeli untuk sekadar mampir ke toko itu.

Terkait kondisi sulit perusahaannya, Chief Executive Officer Debenhams Sergio Bucher angkat bicara.

Bucher mengatakan, Debenhams bakal semakin kencang mempercepat rencana pengurangan karyawan melalui penyederhanaan struktur organisasi.

Menurut dia, langkah itu amat strategis untuk menghemat biaya operasional perusahaan sebesar 10 juta Poundsterling tahun ini.

Ilustrasi ritelDreamPictures Ilustrasi ritel
Lebih lanjut, Bucher masih menaruh optimisme atas masa depan Debenhams. 

"Kondisi pasar sedemikian menantang. Kami bakal terus menggalakkan promosi di berbagai produk musiman dan kami juga merespons agar lebih kompetitif bagi para pelanggan,” tutur Bucher, seperti dilaporkan The Guardian, Jumat (5/1/2018).

Baca juga: Inilah Daftar Panas Peritel yang Terancam Karam Tahun Depan

Richard Chamberlain dari lembaga analis RBC Capital Markets mengatakan, permasalahan yang dihadapi Debenhams bukan hanya akibat berubahnya tren pasar.

“Selain itu, Debenhams kurang mengoptimalkan penjualan musim liburan akhir tahun,” cetus Richard.

Hal senada diungkapkan Kate Calvert, analis Investec. Menurut dia, pesona Debenhams terkikis oleh geliat bisnis daring.

"Debenhams masih akan menghadapi tantangan bisnis dengan biaya operasional yang besar dan belum jelasnya strategi bisnis ke depan,” tuntas Kate.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisHaris Prahara
EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM