Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

10 Tahun Pertama Bangun Tol, Investor Pasti Rugi

Kompas.com, 7 Desember 2017, 18:30 WIB
Dani Prabowo

Penulis

JAKARTA, KompasProperti - Dalam proses membangun jalan tol, tak jarang banyak investor yang berguguran pada awal periode pembangunan.

Terutama dalam kurun waktu 5-10 tahun pertama, yang menjadi titik krusial pembangunan jalan bebas hambatan tersebut.

Pada masa-masa itu, biasanya proses pembebasan lahan dilakukan beriringan dengan pekerjaan konstruksi.

Di satu sisi, para investor belum bisa menangguk untung dari bisnis jalan tol. Di sisi lain, mereka dihadapkan pada pinjaman dan bunga yang sudah berjalan.

"Biasanya, 5-10 tahun pertama itu rugi karena argo bank itu jalan. Ini adalah karakteristik bisnis tol. Begitu tol diresmikan (pembangunannya) dan belum beroperasi, pasti BUJT bayarin terus, sehingga banyak perusahaan swasta yang kita dorong berguguran," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Kompleks Parlemen, Rabu (6/12/2017).

Ia lantas mencontohkan pekerjaan proyek Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Tol yang dirancang sepanjang 54 kilometer ini sedianya mulai digarap sejak 1996.

Meski sempat berganti sejumlah investor, proyek yang terdiri atas empat seksi tetap mangkrak. Pekerjaan tol tersebut baru dimulai kembali di era Presiden Joko Widodo.

"Dengan permohonan maaf saya ingin memberikan contoh, Tol Bocimi. Itu udah empat gajahnya swasta Indonesia, pertama Bukaka, kemudian diambil alih oleh Bakrie, kemudian diambil alih MNC. Ssaat diambil alih Waskita Karya baru jalan," kata Basuki.

Demikian halnya untuk Tol Batang-Semarang dan Tol Ngawi-Kertosono. Menurut Basuki, banyak investor swasta yang pada akhirnya tidak mampu bertahan dan putus di tengah jalan, sehingga membuat pemerintah memutar otak untuk menyiasati kekurangan pendanaan untuk menggarap proyek tersebut.

"Jadi (swasta) yang sekarang bertahan itu yang betul-betul berkemauan dan tekun. Seperti misalnya Kompas, kita mendorong terus itu," sebut Basuki.

Menurut Basuki, salah satu alasan banyak investor yang mundur lantaran tingkat pengembalian modal alias internal rate of return (IRR) jalan tol yang masih rendah. Pasalnya, banyak investor yang menginginkan IRR lebih dari 16 persen.

Sebagai jalan keluar, salah satu cara yang dilakukan pemerintah yakni dengan meminjam dana dari negara lain, seperti China.

"Loan China itu bukan investor ya. Loan China itu APBN dalam rangka menaikkan IRR-nya. Dan loan China itu biasanya ada persyaratannya," tuntasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau