Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

DPR Tuding Jalan Tol Dikuasai "Aseng", Ini Jawaban Basuki

Kompas.com, 7 Desember 2017, 09:43 WIB
Dani Prabowo

Penulis

JAKARTA, KompasProperti — Pemerintah menampik isu terkait rencana penjualan tol guna mencari dana untuk membangun proyek infrastruktur lainnya. Meski demikian, pemerintah menyiapkan beragam skema pembiayaan agar target pembangunan infrastruktur dapat tercapai.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, dibutuhkan investasi sekitar Rp 260 triliun hingga Rp 300 triliun untuk merealisasikan target pembangunan jalan tol.

"APBN sebagai dukungan pemerintah tidak lebih dari 7 persennya," kata Basuki di Kompleks Parlemen, Rabu (6/12/2017).

Untuk mengatasi persoalan financial gap infrastruktur, pemerintah melaksanakan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

Dengan KPBU, ada beragam manfaat yang diperoleh. Mulai dari transfer pengetahuan, project delivery yang tepat waktu, potensi investasi bagi daerah saat proyek telah rampung, serta berbagi risiko.

"Kalau jalan tol ini meleset, bukan hanya BUMN atau pengelolanya, tapi juga Kementerian PUPR dan Komisi V akan dianggap tidak perform (oleh masyarakat). Dengan adanya KPBU, penghematan APBN bisa dibawa ke daerah lain yang lebih membutuhkan government direct investment," kata dia.

Sejauh ini, ada 43 ruas tol yang masuk ke dalam proyek strategis nasional (PSN) dengan investasi yang dibutuhkan senilai Rp 421 triliun.

Dari investasi itu, 30 persen di antaranya merupakan ekuitas badan usaha jalan tol (BUJT) dan 9 persen merupakan dukungan pemerintah yang bersumber dari APBN maupun pinjaman yang dilakukan pemerintah guna menaikkan internal rate of return (IRR).

Dalam hal ini, Basuki mencontohkan, pinjaman yang bersumber dari Pemerintah China atau loan China yang sering dituding "aseng".

"Kalau mengacu kalimat Pak Sungkono (anggota Komisi V), itu semua ruas ada 'aseng'-nya. Itu mungkin beliau terlalu emosi atau semangat. Hanya Kualanamu, Manado-Bitung, Samarinda-Balikpapan, dan Solo Ngawi. Satu lagi Cisumdawu," kata Basuki.

Sementara 61 persen sisanya bersumber dari pinjaman yang dilakukan BUJT. Itu pun, menurut dia, ada beragam jenis mulai dari penerbitan obligasi, sekuritisasi pendapatan seperti yang dilakukan PT Jasa Marga (Persero) Tbk terhadap Tol Jagorawi, hingga pelepasan sebagian saham konsesi tol.

"Jangan pakai kata dijual, tapi disekuritisasi, dikerjasamakan. Asetnya tetap aset pemerintah yang diamanatkan oleh Kementerian Keuangan," tutup Basuki.

Sebelumnya, anggota Komisi V dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Sungkono, menyatakan, ada banyak hal yang perlu dievaluasi terkait pembiayaan pembangunan infrastruktur jalan tol.

Setelah melakukan kunjungan ke proyek Jalan Tol Balikpapan-Samarinda, ada satu ruas dari 99 kilometer dibiayai APBN, namun sisanya dibiayai pinjaman dari China.

"Ini perlu kita evaluasi. Kita pinjam ke suatu negara yang terlalu banyak terlibat di dalam pengelolaan keuangan. Misalnya banyak kontraktor dari China, tenaga ahli dari China," kata Sungkono.

Menurut dia, yang namanya penguasaan itu harusnya berpihak kepada kepentingan nasional. Indonesia pinjam dengan bunga kompetitif dengan perjanjian yang sudah saling disepakati.

"Saya mohon dalam perjanjian selanjutnya, kalau ini dibiarkan terus-menerus, kita bicara kepentingan nasional ya. Jangan sampai kita bicara nasional, tapi justru menguntungkan pihak lain," sebut Sungkono.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau