Rumah Berlapis Programnya Anies, Harus Dibarengi Normalisasi Sungai - Kompas.com

Rumah Berlapis Programnya Anies, Harus Dibarengi Normalisasi Sungai

Arimbi Ramadhiani
Kompas.com - 04/11/2017, 21:37 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Sabtu (4/11/2017)KOMPAS.com/NURSITA SARI Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Sabtu (4/11/2017)

JAKARTA, KompasProperti - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut program penataan kampung bisa dilakukan dengan cara membangun rumah secara berlapis.

Menurut Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar, program ini bisa diterapkan dengan beberapa catatan.

Baca juga : Anies Minta Wali Kota Mencari Solusi Wujudkan Program Rumah Berlapis

Terutama, jika penataan ini dilakukan pada kampung-kampung di bantaran sungai.

"Harus dipikirkan bagaimana 70 persen dari total lahan itu digunakan untuk normalisasi sungai, penataan ruang terbuka hijau (RTH), dan jalan inspeksi," ujar Jehansyah kepada KompasProperti, Sabtu (4/11/2017).

Jehansyah menuturkan, normalisasi biasanya membutuhkan lebar area 1-1,5 meter, sedangkan jalan inspeksi minimal 3-3,5 meter. Dengan demikian, fisik penataan sungai adalah 5 meter.

Jalur hijau selebar 5-10 meter di sepanjang sungai sangat pentingg, karena DKI Jakarta tidak memiliki RTH di bantaran sungai.

Padahal, RTH di sepanjang bantaran sungai sangat berpengaruh terhadap kebutuhan RTH suatu kota.

Ilustrasi pembangunan rumahwww.shutterstock.com Ilustrasi pembangunan rumah

"Di Tokyo, Singapura, Taipei, dan Seoul misalnya, RTH yang kalau di kita (Indonesia) diwajibkan 30 persen itu, didapat paling banyak di bantaran sungai," jelas Jehansyah.

Terlebih lagi, lanjut dia, sungai yang berada di daerah muara dengan kontur lebih berliku-liku. Di bagian yang berliku tersebut, penataan RTH lebih difokuskan.

Pendampingan masyarakat

Selain itu, pembagian rumah bagi masyarakat juga harus diperhatikan.

Menurut Jehansyah, Anies perlu memikirkan bagaimana programnya bisa mengorganisasikan warga untuk membedakan mana warga asli dan mana yang pendatang.

Deretan rumah warga di bantaran anak Ciliwung, Kampung Lodan, Pademangan, Jakarta Utara, Sabtu (12/11). Warga Kampung Lodan, Kampung Tongkol, dan Kampung Kerapu membangun kebiasaan bersih dan hidup sehat untuk menghilangkan stigma bahwa mereka yang menyebabkan kerusakan pada sungai. 
KOMPAS/RADITYA HELABUMI Deretan rumah warga di bantaran anak Ciliwung, Kampung Lodan, Pademangan, Jakarta Utara, Sabtu (12/11). Warga Kampung Lodan, Kampung Tongkol, dan Kampung Kerapu membangun kebiasaan bersih dan hidup sehat untuk menghilangkan stigma bahwa mereka yang menyebabkan kerusakan pada sungai.
"Jangan cuma buka posko, semua daftar karena berpikir dapat rumah bagus. Itu akan membludak," sebut Jehansyah.

Ia memprediksi, warga bisa saling mengajak saudara-saudaranya yang sebenarnya tidak tinggal di sana.

Dikhawatirkan, jika pada awalnya didata ada 1.000 KK, pendaftar bisa meningkat dua kali lipatnya. Oleh sebab itu, harus ada pengembangan rumah berbasis komunitas.

"Jadi bukan hanya mencacah mendata KK. Tapi, pendampingan dari awal dengan fasilitator berpengalaman dibantu mahasiswa-mahasiswa PKL yang digaji oleh Pemprov," tuntas Jehansyah.

PenulisArimbi Ramadhiani
EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM