Kata Sophia Latjuba Harga Rumah di Indonesia Terlalu Mahal, Benarkah? - Kompas.com

Kata Sophia Latjuba Harga Rumah di Indonesia Terlalu Mahal, Benarkah?

Hilda B Alexander, Arimbi Ramadhiani
Kompas.com - 13/07/2017, 22:29 WIB
Sophia Latjuba dalam wawancara usai peluncuran produk elektronik di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu (12/7/2017).KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Sophia Latjuba dalam wawancara usai peluncuran produk elektronik di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu (12/7/2017).

JAKARTA, KompasProperti - Harga yang terlalu mahal menjadi alasan artis peran Sophia Latjuba tidak membeli properti di Indonesia khususnya untuk investasi.

Sophia bahkan mengaku benci terhadap harga properti di Indonesia dan memilih untuk membeli di Jerman.

Baca: Sophia: Saya Benci Harga Properti di Indonesia

Faktanya, berdasarkan hasil riset Knight Frank yang berjudul "The Wealth Report 2017", Jerman masuk dalam daftar negara-negara paling diminati untuk tinggal atau pembelian properti.

Knight Frank melaporkan, Jerman berada di urutan ketiga dalam daftar negara di dunia yang paling diincar untuk investasi. Adapun urutan pertama dan kedua diduduki oleh Britania Raya dan Amerika Serikat.

Jerman, khususnya Berlin, dinilai sebagai model regenerasi yang sukses. Dua daerah di Berlin, yakni Mitte dan Kreuzberg, telah memimpin keberhasilan regenerasi pengembangan.

Adapun Pankow, dengan pemandangan budaya, butik, dan kehidupan malam yang semarak, kini mulai berkembang semakin "lembut".

Beberapa tahun terakhir, di Berlin telah terjadi ledakan perusahaan rintisan dengan lebih dari 40.000 perusahaan baru didirikan setiap tahunnya.

Hal ini menyebabkan harga properti di Berlin tumbuh 8,7 persen dan menempati posisi ke-13 dunia menurut Prime International Property Index (PIRI) 2017. 

Sementara itu, Jakarta jauh berada di posisi ke-54 dunia dengan kenaikan tipis hanya 0,30 persen. 

Ilustrasi apartementhinkstock Ilustrasi apartemen
Menurut PIRI, dengan uang 1 juta dollar AS atau Rp 13,3 miliar, kita hanya akan mendapatkan ruang seluas 87 meter persegi di Berlin. Ini artinya, per meter persegi dibanderol sekitar Rp 153 juta.

Bandingkan dengan Jakarta yang harga per meter perseginya masih berkisar Rp 46 juta hingga Rp 50 juta.

Secara keseluruhan, Jerman memang tengah populer bagi para pengusaha rintisan untuk tumbuh di dunia.

Tercatat lebih dari 174.000 orang pindah ke kota tersebut pada 2014, lebih dari setengahnya berasal dari luar negeri.

Perekonomian Berlin sekarang menunjukkan kinerja yang cukup baik di negara ini, didorong oleh pariwisata dan pelayanannya.

Betulkah Kemang lebih mahal ketimbang Beverly Hills?

Tak hanya menganggap Jakarta lebih mahal ketimbang Berlin, Sophia juga menilai properti Kemang lebih tinggi harganya ketimbang Beverly Hills, Los Angeles.

Berdasarkan pengalamannya, Sophia merasa umumnya properti berharga tinggi yang dibeli tak sesuai dengan kualitas yang didapatkan.

Ilustrasi apartemenThinkstock Ilustrasi apartemen
"Rumah di Kemang bisa lebih mahal daripada rumah di Beverly Hills, enggak masuk akal menurutku," ujarnya.

Betulkah?

Mari kita cek indeks PIRI 2017. Tertulis pertumbuhan harga properti di Los Angeles 5,30 persen. Pertumbuhan harga ini menempatkan ibu kota Negara Bagian California tersebut berada di posisi ke-17 dunia.

Lagi, bandingkan dengan Jakarta yang menempati level ke-54 dunia.

Lantas, dengan fulus sama yakni 1 juta dollar AS, berapa luas ruang yang bisa kita dapatkan di Los Angeles? Menurut PIRI, hanya 61 meter persegi. Itu artinya sama dengan Rp 219 juta per meter persegi.

Adapun di Jakarta, dengan Rp 13,3 miliar, Sophia bisa mendapatkan apartemen atau ruang seluas 260 meter persegi. 

PenulisHilda B Alexander, Arimbi Ramadhiani
EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X