Minggu, 21 Desember 2014
Wawancara
Budiarsa: Rahasia Sukses Grup Ciputra Bangun di Mancanegara
Selasa, 19 April 2011 | 06:40 WIB
|
Share:
Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS
Budiarsa Sastrawinata, Managing Director Grup Ciputra, dan Presiden INTA

KOMPAS.com - Grup Ciputra berekspansi hingga ke mancanegara, mulai dari Vietnam, Kamboja, India, hingga ke China. "Pak Ciputra menginginkan perusahaan ini melebarkan sayap ke luar negeri," kata Budiarsa Sastrawinata, Managing Director Grup Ciputra dalam percakapan dengan Kompas.com belum lama ini.

Budiarsa Sastrawinata, yang juga menantu Ciputra, memimpin sub-holding 1 Grup Ciputra yang menangani Citra Garden City di Jakarta Barat, CitraGrand City di Palembang, dan proyek kota baru di Hanoi (Vietnam), Phnom Penh (Kamboja), dan Shenyang (China). Grup Ciputra sejak lima tahun terakhir ini terbagi dalam tiga sub-holding. Selain Budiarsa yang menangani sub-holding 1, juga ada Harun Hajadi yang memimpin sub-holding 2, dan Candra-Cakra yang membawahi sub-holding 3.

Visi Pak Ci waktu itu, Grup Ciputra harus melihat kesempatan ke luar negeri. Jadi Pak Ci minta lahan seluas- luasnya agar bisa membangun kota baru di mancanegara.
-- Budiarsa Sastrawinata

"Dengan adanya sub-holding, masing-masing sub- holding secara manajemen lebih independen. Dengan kejelasan portofolio, tak ada gesekan. Masing-masing sub-holding berjalan secara harmonis. Setiap orang punya style masing-masing. Tak ada benar atau salah," ungkap Budiarsa.

Lahir di Jakarta, 10 Agustus 1955, Budiarsa Sastrawinata menyelesaikan pendidikan TK-SMA Regina Pacis (mulai dari sekolah yang berlokasi di Theresia - Budi Kemuliaan sampai Slipi). Budiarsa sempat mengenyam pendidikan di Universitas Trisakti Jakarta selama satu tahun, tapi setelah itu Budiarsa langsung belajar di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Plymouth, London, Inggris (1976-1981). Sedangkan Rina Ciputra kuliah di Los Angeles, Amerika Serikat dan Selandia Baru. Budiarsa dan Rina sama-sama sekolah di Regina Pacis Jakarta.

Kembali ke Indonesia tahun 1981, Ciputra mendirikan perusahaan Citra Habitat (cikal bakal Ciputra Development). Grup Ciputra adalah perusahaan properti yang ditangani keluarga Ciputra, setelah anak-anak Ciputra sudah kembali belajar dari luar negeri. Proyek pertamanya adalah Citra Garden City di Jakarta Barat. Proyek perumahan ini cikal bakal perusahaan yang kini bernama Ciputra Development. Yang in-charge di Citra Garden adalah Rina, putri Pak Ciputra, yang juga istri Budiarsa.

"Pak Ciputra mendirikan perusahaan ini karena melihat anak-anak dan menantu sudah waktunya bekerja. Masuk ke Grup Jaya atau ke Metropolitan, susah. Jadi Pak Ciputra mendirikan perusahaan keluarga ini," kata Budiarsa.

Awalnya, Budiarsa membantu Pak Ci mengembangkan CitraGarden di Kalideres. "Waktu melihat lahan calon lokasi, saya dan Pak Ci jalan-jalan di pematang sawah. Dulu kan lokasi CitraGarden masih sawah. Jalan tol Bandara saja belum jadi. Sempat tanya Pak Ci, apa nggak salah pilih lokasi ini karena kan lokasinya jauh sekali dari pusat Jakarta? Waktu itu bandara pun belum beroperasi. Tapi di sinilah saya belajar banyak dari Pak Ci, bagaimana visi Pak Ci jauh ke depan," cerita Budiarsa.

Budiarsa sendiri pada tahun 1983 sudah mulai menangani cikal bakal BSD. Pada Januari 1984, akte pendirian BSD baru bisa ditandatangani. Dan sejak itu, Budiarsa bekerja penuh mempersiapkan kota baru Bumi Serpong Damai. "Tahun 1983, saya bolak-balik bertemu pemegang saham BSD lainnya dari Grup Salim dan Grup Sinarmas. Jadi persiapannya lima tahun, dan baru 16 Januari 1989, BSD diluncurkan oleh Mendagri (waktu itu) Rudini dan Gubernur Jawa Barat (waktu itu) Yogie S Memed. Waktu itu BSD merupakan proyek pertama yang berskala luas sehingga saya merasa harus belajar soal kota baru," jelas Budiarsa, yang juga Presiden INTA, asosiasi kota baru dan peremajaan kota seluruh dunia.

Berikut ini wawancara khusus dengan Budiarsa Sastrawinata, Managing Director Grup Ciputra oleh Robert Adhi Kusumaputra dari Kompas.com.

Bagaimana Grup Ciputra membangun proyek kota baru di luar negeri dan meyakinkan mitra-mitra di luar negeri?
Tantangan membangun kota baru di luar negeri lebih besar dibandingkan membangun properti di dalam negeri. Di Indonesia, banyak orang sudah mengenal nama Pak Ciputra dan brand Ciputra berkualitas baik. Tapi di luar negeri? Banyak yang belum tahu siapa Ciputra dan bagaimana produk propertinya. Ini tantangan. Saya ajak mereka datang ke Indonesia, melihat proyek-proyk Ciputra di sini.

Tahun 1992-1993, saya dan Agussurya, salah satu direktur di perusahaan ini sudah sudah keliling luar negeri, mencari kemungkinan membangun proyek kota baru. Pertama kali kami konsentrasi ke Vietnam karena kami sudah membangun hotel lebih dulu, Hanoi Horison Hotel yang beroperasi tahun 1997.

Kami mengajukan izin membangun kota baru di Hanoi, Vietnam tahun 1994, Surat Keputusan Gubernur Hanoi ditandatangani 30 Desember 1996, namun kami baru menerima SK itu Februari 1997. Proses perizinan di Vietnam tidak mudah. Meskipun Gubernur Hanoi sudah menandatangani SK, namun kami tetap harus mempresentasi rencana kota baru di hadapan dua menteri dan juga ke Perdana Menteri.

Visi Pak Ci waktu itu, Grup Ciputra harus melihat kesempatan ke luar negeri. Jadi Pak Ci minta lahan seluas- luasnya agar bisa membangun kota baru. Kami melakukan survei, dan lihat ada lokasi memungkinkan yang relatif kosong. Ada 300-400 hektar, itulah yang diproses.

Pertama, mereka melihat Pak Ciputra. Mereka juga diundang lihat proyek-proyek di Indonesia, sehingga mereka yakin dan berani. Begitu kita terima SK, Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1997 sehingga Grup Ciputra menahan diri. Hampir semua negara di Asia terkena dampak krisis ekonomi. Tapi kami bersyukur, izin dari Pemerintah Vietnam tetap diberikan kepada Grup Ciputra. Tahun 2003, setelah krisis berlalu, barulah kami membangun fisik di Hanoi.

Kami membangun perumahan (landed house), apartemen, fasilitas sekolah internasional. Dan sekolah internasional terbesar di Hanoi memindahkan sekolah mereka ke kota baru yang kami bangun dan mengambil lahan seluas 9 hektar. Ini klop sekali dengan tagline Ciputra Hanoi International City. Dan penghuni dua menara apartemen di sana umumnya orang asing.

Lokasi kota baru ini persis di tepi jalan tol, diapit dua jalan yang menuju bandara. Begitu keluar tol, langsung masuk ke proyek Ciputra Hanoi International City. Gerbang kota baru ini sama persis dengan gerbang Citra Raya di Tangerang. Gerbang yang persis sama seperti ini ada empat. Pertama di Citra Raya Tangerang, kedua di Ciputra Hanoi International City di Vietnam, ketiga di Kolkatta West International City (Calcutta) di India, dan keempat di Grand Phnom Penh International City di Kamboja.

Ceritanya, kami ajak Gubernur Hanoi ke Citra Raya Tangerang. Dia lihat dan dia suka dengan gerbang seperti ini sehingga kami membangun gerbang serupa di Hanoi.

Bagaimana Anda dan Grup Ciputra memutuskan membangun di kota-kota di luar negeri?
Saya menangani pembangunan kota-kota baru, Ciputra Hanoi International City, Grand Phnom Penh International City, Kolkatta West International City (yang sudah dijual ke pengusaha India), dan Grand Shenyang International City.

Sebelum menentukan membangun di Kolkatta, saya keliling India, dari New Delhi, Mumbai, Madras (sekarang Jenai), sampai Hyderabad. Dibandingkan New Delhi dan Mumbai, kota Kolkatta sangat terbelakang. Kolkatta (dulu disebut Calcutta) adalah ibu kota West Bengal, satu-satunya negara bagian di India, yang dipimpin penguasa dari partai komunis. Jadi kota ini paling terbelakang, namun jumlah penduduknya 13 juta. Kami melihat ini sebagai kesempatan.

Dalam satu proyek properti ini, kami hanya butuh ribuan konsumen. Masak dari 13 juta penduduk Kolkatta, tak ada yang mampu membeli properti? Jadi itulah pola pikir kami ketika menjadikan Kolkatta sebagai target. Sama halnya kami melihat peluang di India dan China, yang jumlah penduduknya sangat banyak.

Ketika memilih Hanoi, Pak Ci melihat ada kesempatan lain untuk mengembangkan kota baru di ibukota Vietnam ini. Kami sebelumnya sudah membangun hotel lebih dulu di kota ini.

Sambil membangun kota baru di Hanoi, saya mencari peluang lain di dekat Vietnam. Kami dapat peluang lagi di Phnom Penh di Kamboja. Kami melihat potensi kota ini, apakah ekonominya berkembang atau tidak, bagaimana kondisi politiknya, jumlah penduduknya. Mengapa kami tidak memilih Vientianne di Laos? Karena jumlah penduduknya sedikit. Mengapa tidak memilih Myanmar? Karena sistem politiknya belum terbuka. Dan kami memilih Phnom Penh, Kamboja. Di sini, belum ada pengembang yang membangun kota baru.

Sedangkan sebelum membangun kota baru di China, saya sudah berkeliling China, dari utara ke selatan, pada awal tahun 1993 lalu. Akhirnya kami memilih kota lapis kedua, yaitu Shenyang, ibukota Provinsi Liaoning, yang pernah menjadi ibukota China pada masa dinasti.

Kami meneruskan kepeloporan Pak Ci, semua kota baru yang kami bangun di Vietnam, India, Kamboja, India, adalah yang pertama. Kami punya konsep yang jelas, potensinya besar, dan pemerintah setempat mendukung proyek kami.

Pengalaman di negara berkembang itu mirip semua. Apalagi masih sama-sama Asia, yang kulturnya masih sama. Jadi kami punya bekal yang sangat berharga, sehingga kami bisa mengimplementasikan proyek serupa di negara lain.

Walaupun baru, konsep kami jelas dan bisa diterima pemerintah. Garis pertama, untuk bisa dapatkan izin. Dengan penjelasan konsep dan track record Pak Ciputra, mereka bersedia memberi izin. Di samping konsep yang tepat, pasar yang tepat. Produk yang dibangun harus sesuai yang dijanjikan karena janji adalah utang yang harus ditepati.

Kalau di luar negeri, track record kami bisa dilihat dari pemerintah setempat karena mereka bisa cek ke Indonesia. Tapi pasar kami orang sana. Jadi informasi harus dilakukan melalui media setempat. Begitu kami me-launching, kami tidak perlu iklan lagi karena mereka sudah lihat sendiri produknya. Dan memang, belum ada proyek kota baru sebelumnya seperti kami bangun.

Saat ini kami sedang membuat bio-climate study untuk mendukung lingkungan hidup di kota baru yang kami bangun.

Konsep apa yang dikembangkan Grup Ciputra di mancanegara?
Kami mengembangkan konsep integrated development. Di satu kawasan, di kota baru, kita bisa mendapatkan seluruh disiplin properti, residensial, komersial, fasilitas dan pendukungnya.

Di Hanoi, kami punya tiga sekolah, yaitu United Nation International School, Kinderworld, dan Hanoi Academy School. Saat ini kami sedang membangun mal (Ciputra Hanoi Mall). Kami juga akan membangun hotel, perkantoran, dan rumah sakit akhir tahun 2011. Jadi orang yang tinggal di sana, semua kebutuhan terpenuhi. Di Hanoi, kami mendapatkan SK seluas 300 hektar. Sampai tahun 2011, sekitar 700 rumah dibangun.

Anda juga aktif sebagai President INTA, asosiasi kota baru dan peremajaan kota internasional. Bagaimana ceritanya Anda bisa aktif dalam asosiasi ini?
Ini berawal ketika saya mendapat tugas dari Pak Ci untuk memegang proyek kota baru BSD. Waktu itu saya ingin belajar soal kota baru. Saya datang ke Kongres INTA tahun 1986 saat akan membuat masterplan BSD. Waktu itu pengalaman membangun kota baru masih kurang. Jadi untuk membuat masterplan, saya mencari asosiasi kota baru, yang bisa membuat saya belajar. Waktu dibentuk, nama asosiasi ini adalah International New Town yang disingkat sebagai INTA. Tapi dalam perkembangannya, yang dibahas asosiasi ini bukan hanya kota baru, tetapi juga urban renewal (peremajaan kota) dan urban development (pembangunan kota). Logo dan singkatan tidak diganti, tetap INTA.

INTA didirikan tahun 1974 di Paris, Perancis. Kongres digelar setiap tahun, biasanya bulan Oktober-November. Tahun ini digelar di Lyon, Perancis. Lima puluh persen anggota INTA adalah lembaga pemerintah.

Saya adalah Presiden pertama dari Asia. Waktu terpilih pertama kali tahun 2007, muncul perdebatan di board, apakah apakah saya tepat menjadi presiden karena saya orang swasta. Presiden INTA sebelumhya Menteri Perumahan Rakyat Maroko. Sebelumnya Wakil Walikota Lyon di Perancis. Saya terpilih sebagai Presiden INTA karena saya memang menangani kota-kota baru di Vietnam, Kamboja, India, dan China. Pada saat terpilih, saya juga masih anggota DPR.

Tahun 2010-2013, saya terpilih lagi sebagai Presiden INTA.

Apa tugas Anda sebagai Presiden INTA?
Tugas Presiden INTA adalah membangun networking dan sharing information. Kami mengadakan seminar, diskusi panel, dan kursus-kursus. Belum lama ini, INTA diminta oleh Pemerintah Kota Fukuoka untuk mereview CBD mereka. Lalu INTA mengirim 10 orang panelis ahli masterplan. Tugas para panelis ini membuat studi, bertemu dengan NGO, dan pakar di sana, membuat proposal. Pemerintah Fukuoka memberi fee kepada INTA.

INTA juga diundang negara kepulauan bagaimana menjadikan negara itu pulau wisata dunia. Polandia juga minta INTA mereview kota pelabuhan Gdanks. Ada permintaan membangun high-rise building sehingga pemerintah pusat turun tangan. Dan pemerintah pusat minta INTA me-review masterplan. Jadi ada kebutuhan kota-kota di dunia, yang minta kita melakukan studi, mereview kebutuhan, sehingga kita diminta melakukan kegiatan di sana. Ada kota di selatan Paris, pemerintah kotanya sudah tiga kali memanggil INTA me-review masterplan, setiap 10 tahun sekali.

Jadi INTA adalah wadah yang betul-betul yang bisa digunakan anggota untuk kebutuhan mereka dalam urban planning. Anggotanya pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusaahan daerah, perusahaan swasta, akademisi, individu, stakeholdes kota.

Anggota dari Indonesia tidak banyak. Antara lain pengembang Ancol, Pondok Indah, BSD, Lippo, Ciputra. Dari pemerintah pusat, Indonesia diwakili Bappenas.

Wah, Anda dipercaya menjadi Presiden INTA sampai dua periode. Apa rahasianya?
Saya selalu mencoba merespon kebutuhan anggota. Asosiasi ini sifatnya memberi servis, memenuhi kebutuhan anggota. Jadi di mana pun, akan kami datangi. Kalau ada pemerintah kota yang butuh panelis, langsung kami kirim. Sampai ke Afrika, ada negara kecil pun, jika ada kebutuhan, tetap dilayani. Perhatian kepada anggota ini membuat salah satu menteri di Afrika, langsung mendukung saya menjadi Presiden. Demikian halnya pemerintah kota di Taiwan. Mereka lihat kongres di Kuala Lumpur dan di Taiwan sukses. Jadi peran Asia dalam INTA sangat besar. Saya orangnya aktif dan responsif.

Mereka butuh panelis dan seminar, kami kirim dan kami adakan. Ini respon yang dihargai. Perancis minta summer course. Tahun ini Portugal minta. Jadi anggota merasa didengar, dihargai, dan bermanfaat. INTA punya 40-an pakar dari berbagai bidang ilmu dan dari berbagai negara.

Kabarnya Grup Ciputra akan membangun kota baru di Polandia?
Waktu INTA diminta me-review masterplan kota Gdanks, saya bertemu menteri dan beberapa walikota. Di situlah ada walikota salah satu kota yang minta Grup Ciputra membangun di sana. Sampai sekarang kami sedang menjajaki peluang ini. Kalau ada kesempatan, mengapa tidak? Perkembangan terakhir sampai April 2011, Grup Ciputra masih melihat skim yang tepat. Peraturan perizinan di negara-negara Eropa berbeda dengan di Asia, di Indonesia. Jadi kami memilih skim yang paling tepat. Kami tidak boleh coba-coba.

Bagaimana Anda mempersiapkan anak-anak Anda sebagai generasi ketiga keluarga Ciputra hingga setangguh Pak Ci dan generasi kedua?
Ketiga anak saya kini sudah lulus kuliah. Putri pertama, Anindya (27) lulusan hospitality management di Swiss, saat ini sudah membantu proyek CitraGarden Jakarta dan CitraGarden City di Palembang, putri kedua Lalitya (26) yang mendalami business development, kini bekerja di CitraGarden Jakarta, sedangkan Nararya (25) sibuk mengerjakan proyek kota baru di Shenyang, China. Anak keempat, Aditya (21) masih kuliah di Imperial College London. Ini sekolah tertua di dunia, engineering nomor satu.

Kami didik mereka, termasuk ajaran-ajaran moral juga. Tentunya tidak terlepas dari bagaimana perjalanan hidup kami selama ini. Mereka tak pernah kami manjakan. Untuk melanjutkan pendidikan, mereka berjuang sendiri untuk bisa masuk sekolah yang baik. Saya yakin mereka lebih baik dari saya, bekal pendidikan mereka lebih baik dari saya, dan reputasi sekolah mereka lebih baik dari sekolah saya. Tapi untuk lebih baik dari Pak Ci, nggaklah karena Pak Ci unik, tak ada duanya.

Anindya belajar di Swiss, masuk ke sekolah swasta terbaik di sana. Lalitya masuk sekolah di Boston, Amerika, di mana lulusannya termasuk Hillary Clinton, Madeline Albright. Dua anak saya lainnya dua-duanya dari Imperial College. Tentu hasilnya harus lebih baik. Tantangan anak-anak lebih besar dari tantangan masa saya.

Generasi ketiga keluarga Ciputra pada awalnya harus ke proyek-proyek karena mereka harus mengerti apa saja yag dikerjakan, untuk siklus proyek. Setelah itu mereka baru nantinya berkonsentarsi di satu bidang. Tapi setidaknya seakrang mereka harus mengerti dan memahami marketing itu seperti apa. Semua harus mereka dalami, all around. Jika itu semua sudah dipahami, mereka akan mampu membuat keputusan strategis. Karena itulah, setiap anak memgawali bekerja di business development, sehingga mereka bisa mengenali semua aspek di perusahaan. Mereka harus pernah mengalami di semua bagian.

Anak lelaki saya pernah di lapangan, mengawasi bangunan proyek, pembebasan tanah, sebelum ke Shenyang, China. Sehingga ia tahu semua aspek. Kebetulan proyek ini baru sehingga lebih mudah untuk menerapkan apa yang mereka pelajari. Kebetulan waktu Anindya kembali, kami baru membangun proyek CitraGrand City di Palembang. Anak-anak perlu mengetahui bagian tiap bagian. 

Anda pernah menaklukkan hati Jack Nicklaus sehingga ia memutuskan mau mendesain lapangan golf di BSD. Bagaimana ceritanya?
Waktu mau membangun BSD, lokasinya sangat jauh. Membangun kota baru BSD skala besar, saya pikir harus membangun lapangan golf lebih dulu. Pada saat itu lapangan golf Pondok Indah sudah ada, tapi lapangan golf Pantai Indah Kapuk sudah didesain dan belum dibangun. Jadi harus cari yang lebih hebat. Waktu mau membangun lapangan golf di BSD, saya tulis surat ke Jack Nickaus tahun 1987.

Tapi waktu itu, Jack Nicklaus menolak dengan alasan terlalu jauh. Saya tak bisa terima begitu saja. Saya pergi ke kotanya di Palm Beach tanpa janji. Waktu itu saya sudah punya tiga anak masih balita. Istri saya Rina mau ikut. Dia dan anak-anak ke Hawaii, sedangkan saya berusaha menemui Jack Nickaus. Saya menyewa mobil, menyetir sendiri dan bertemu Vice President Marketing. Saya bawa berkas perencanaan BSD yang disusun konsultan Jepang. Kami berdiskusi satu jam lebih. Saya sudah bertemu Senior Vice President, tapi Jack masih nggak mau mendesain lapangan golf di Indonesia. Jack baru mau di Jepang. Katanya, Indonesia terlalu jauh. Tapi saya tidak patah arang. Saya terus berusaha membuat janji bertemu langsung dengan Jack. Lalu apa kerjaan saya dalam saat menunggu? Saya main golf sendirian.

Hari ketiga, barulah saya bisa bertemu langsung Jack Nicklaus. Saya terkesan, ternyata Jack sangat humble. Saya jelaskan rencana kota baru BSD. Tak sampai setengah jam, dia bilang yes. Dari pengalaman ini, saya yakin kita tidak boleh cepat putus asa. Kepada staf saya, selalu saya tegaskan untuk jangan cepat putus asa. kalau ditolak, coba dulu lagi, mungkin dia belum tahun rencana dan tujuan kita.

Yang bikin saya kaget setelah bertemu Jack Nicklaus ketika tahu fee-nya mahal sekali. Ini di luar dugaan. Waduh, kalau saya kembali, nggak enak. Saya minta janji dengan Arnold Palmer, mereka mau. Fee-nya separuh dari Jack Nicklaus. Saya juga bertemu Johnny Miller di LA. Tapi akhirnya saya simpulkan harus tetap dengan Jack Nicklaus.

Setelah menjemput istri dan tiga anak balita di Hawaii, kami kembali ke Jakarta. Saya cuci cetak film, lalu mempresentasikan ke pertemuan pemegang saham lainnya, kepada Anthony Salim dan Eka Tjipta Widjaja. Akhirnya mereka setuju Jack Nicklaus mendesain lapangan golf BSD. Bulan September saya ketemu Jack, bulan Desember saya bersama Pak Ci menemui Jack lagi. Kerja sama pun langsung ditandatangani.

Pelajaran yang saya dapatkan, jangan langsung menerima tolakan sebelum kita yakin mengapa dia menolak. Saya yakin Jack Nicklaus belum tahu. Setelah mendesain lapangan golf BSD, Jack mendapat banyak proyek lainnya, Emeralda, Taman Dayu, Batam, Bintan, Medan.

Bagi saya, merancang kota baru Bumi Serpong Damai sangat berkesan karena diberi kesempatan oleh pemagang saham dari awal. PT belum terbentuk, saya mulai sebagai empat orang staf. Saua menyewa gedung di Gedung Jaya seluas 60 m2 yang dibagi dua, ruang saya dan ruang rapat, lalu ruang sekretaris, pembukan, kasir, dan office boy. Saham Ciputra hampir sama dengan saham Salim dan Sinarmas. Tapi saat terjadi krisis ekonomi 1997, masalah ini bukan lagi bukan masalah BSD, tapi urusan pemegang saham. Yah, risiko bisnislah. (Robert Adhi Kusumaputra)



Editor :
Robert Adhi Kusumaputra