Sabtu, 1 November 2014
RUMAH SUSUN
Pengamat: Minimal Satu Rusun di Kawasan Industri
Penulis : Natalia Ririh | Selasa, 1 Mei 2012 | 18:46 WIB
|
Share:
shutterstock
Ilustrasi: Kehadiran rusun di kawasan industri bisa menjadi solusi permasalahan perumahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai upaya mengurangi angka backlog perumahan, pemeritah disarankan membangun rumah susun di setiap kawasan industri. Hadirnya rusun bagi pekerja atau buruh juga dapat meningkatkan produktivitas kerja serta mengurangi kemacetan.

Kalau satu saja rumah susun mulai dibangun di setiap lokasi kawasan industri, tentu bisa mengurangi backlog perumahan.
-- Ali Tranghanda

"Kalau satu saja rumah susun mulai dibangun di setiap lokasi kawasan industri, tentu bisa mengurangi backlog perumahan," kata Direktur Indonesia Property Watch (IPW), ALi Tranghanda, ketika dihubungi Kompas.com di Jakarta, Selasa (1/5/2012).

Ali mengatakan, kehadiran rusun di kawasan industri bisa menjadi solusi permasalahan perumahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Mau bentuknya nanti rumah sejahtera susun, yang sebelumnya dikenal rumah susun sederhana milik (rusunami) atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa), tapi ini bisa jadi solusi," ujarnya.

Namun, pemerintah diminta untuk konsisten membangun rumah untuk pekerja atau buruh. Pasalnya, ide itu sudah digulirkan sejak lama.

"Seperti rusun untuk buruh di Batam (Rusunawa untuk 4.000 Pekerja di Batam), itu sudah dibangun sejak jabatan Menpera di jaman Yusuf Ansyari, baru setelah dijabat Menpera Djan Faridz selesai," katanya.

Ia mengatakan, untuk mengentaskan masalah perumahan tak bisa hanya mengandalkan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Pemerintah pusat diminta memegang kendali melibatkan kementerian lainnya untuk membangun perumahan rakyat.