Arsitek Ikut Bertanggung Jawab Atas Kemacetan Kota

Kompas.com - 17/10/2020, 11:33 WIB
Ilustrasi kemacetan ibukota. SHUTTERSTOCKIlustrasi kemacetan ibukota.

Berbeda dengan TOD dengan sebaran gerakan manusia secara vertikal keluar tapak dari terminal/stasiun untuk melakukan kegiatan di luar, TJD adalah gerakan vertikal dalam satu tapak.

TJD adalah mixed use  atau bangunan multi fungsi antara kegiatan transportasi dan kegiatan non-transportasi seperti perkantoran, mal, pertunjukan/bioskop, kuliner, kesehatan, perhotelan, perumahan atau apartemen sesuai zonasi.

Di Amerika, Eropa, bahkan di Jepang, TJD sangat lazim dengan angkutan rail base-nya yakni mass rapid transit (MRT) berada di bawah tanah, sedangkan di atas tanah terdapat ruag multifungsi yang mencakup terminal, pusat belanja, apartemen, perkantoran, dan lain-lain.

Pada bagian inilah arsitek berperan secara aktif untuk terlibat mengurus kemacetan lalu lintas sebagai visi dan motivasi berkarya dalam rona urban modern design.

Jadi semua kebutuhan manusia tercukupi dalam satu tapak sehingga tidak butuh sarana transportasi untuk pergi ke destinasi lain.

Untuk menarik masyarakat menggunakan angkutan umum massal (pull), peran arsitek sangat penting.

Peran arsitek secara langsung dapat diimplementasikan dalam rancangan bangunan-bangunan pelayanan angkutan umum, seperti stasiun kereta api, terminal bus, bandar udara, pelabuhan laut dan pelabuhan angkutan sungai dan penyeberangan (ASDP).

Bagaimana arsitek mampu merancang kenyamanan, kemudahan, keamanan, keselamatan dan kesetaraan bagi pengguna angkutan umum, termasuk proses perancangan integrasi (konektivitas) antar-moda angkutannya.

Terlebih penting transportasi massa depan hanya tiga, yakni non-motorist transport (NMT), angkutan umum massal (MRT/LRT/BRT), shuttle (angkutan khusus dari perumahan ke sekolah/kampus, perkantoran, mal dan lain-lain).

Kendaraan listrik tetap tidak menjanjikan karena bila telah diproduksi massal tetap akan membuat kemacetan yang sama.

Jadi arsitek-arsitek visioner sangat diperlukan untuk mengubah wajah kota-kota konservatif menjadi kota berwajah baru dalam konsep sustainable urban transport.

Apabila arsitek berhasil mengejawantahkan desain bangunan menjadi produk layanan transportasi umum sesuai standar pelayanan minimum, niscaya masyarakat akan tertarik menggunakan angkutan umum massal. Konsep ”pull” pun akan berhasil.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X