Arsitek Ikut Bertanggung Jawab Atas Kemacetan Kota

Kompas.com - 17/10/2020, 11:33 WIB
Ilustrasi kemacetan ibukota. SHUTTERSTOCKIlustrasi kemacetan ibukota.

Mungkin bila tiada regulasi perancangan bangunan, wajib sediakan ruang parkir 20 persen sampai 30 persen dari total luas lantai, sang arsitek juga tidak akan selalu mendesain ruang parkir.

Risiko banyaknya ruang parkir tentunya akan menjadi stimulan masyarakat selalu gemar menggunakan kendaraan pribadi, sementara kapasitas ruang jalan sangat terbatas.

Barang kali arsitek dapat berpikir tentang perancangan desain seimbang. Di samping menyediakan ruang parkir mobil/motor, juga halte/shelter angkutan massal (bus) yang masuk dalam tapak (site) gedung yang nyaman.

Konsep seperti ini dapat kita namakan bangunan yang berintegrasi dengan angkutan umum massal. Kebutuhan akan halte bus terintegrasi dalam tapak tersebut, dapat mengikuti standar kepadatan pengguna gedung sesuai SNI, yakni kepadatan gedung 500 orang ke atas.

Boleh dikatakan arsitek juga bertanggung jawab terhadap kemacetan lalu lintas sebagai akibat hanya memfasilitasi rancangan desain bagi pengguna kendaraan kendaraan pribadi saja, bukan memfasilitasi pengguna kendaraan umum massal.

Untuk membantu mengurangi kemacetan lalu lintas non-disiplin ilmu transportasi, dapat dilakukan secara transit oriented development (TOD) dalam arsitek penataan kota dan transit joint development (TJD) dalam arsitek perancangan bangunan.

Kedua ilmu tersebut TOD dan TJD berasal dari Amerika Serikat untuk mengurangi kemacetan lalu lintas yang sangat parah akibat industri otomotif berhasil mamadati jalan dan beton jalan layang menggurita di sana.

Secara formal, TOD dan TJD dalam konteks akademik belum diajarkan di perguruan tinggi kita.

TOD adalah pengolahan tata guna lahan hanya mengutamakan transport base (pejalan kaki) dari titik simpul angkutan massal (stasiun/terminal) sejauh 400 meter-800 meter.

Hal ini mengacu Peraturan Menteri (Permen) ATR/BPN Nomor 16 Tahun 2017) menuju destinasi perkantoran, mal, hotel/apartmen, rumah sakit, galeri, dan lain-lain.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X