JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menggelar lokakarya megastruktur dan infrastruktur tahan gempa Indonesia karya anak bangsa secara virtual, Kamis (24/9/2020).
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, lokakarya merupakan salah satu wadah dalam memperkenalkan teknologi tahan gempa dan mitigasi bencana yang digunakan dalam bidang konstruksi kepada masyarakat luas dan dunia usaha
"Salah satunya menyebarluaskan base-available technology yang kami punya sampai dengan hari ini," tutur Basuki.
Basuki melanjutkan, lokakarya ini juga sekaligus sebagai bentuk apresiasi karya anak bangsa dalam penemuan teknologi tahan gempa dan mitigasi bencana.
Masyarakat harus tau jika potensi gempa tak diantisipasi secara memadai dan tidak menggunakan ilmu pengetahuan mumpuni dapat menimbulkan kerusakan secara langsung terhadap infrastruktur dan risiko tinggi bagi mereka.
Basuki menegaskan, pembangunan infrastruktur merupakan program kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada periode 2019-2024.
Baca juga: Tahun 2021, Pemerintah Bidik 180.000 Tenaga Konstruksi Tersertifikasi
Saat ini, Kementerian PUPR tengah membangun proyek infrastruktur berskala besar yakni, 60 bendungan, 60.000 meter jembatan bentang panjang, 2.500 kilometer jalan, serta infrastruktur lainnya.
Pembangunan infrastruktur pun tak hanya memperhatikan aspek fungsional, tetapi memberikan sentuhan arsitektual atau seni dan keamananan secara struktur.
Sebagai contoh, Jembatan Merah Putih di Ambon, Jembatan Pulau Balang di Kalimantan Timur, Jembatan Teluk Kendari di Sulawesi Tenggara, dan Jembatan Kali Kenteng di Jawa Tengah.
Jembatan tersebut dibangun menggunakan structural health system untuk memantau kesehatan struktur jembatan.
Sementara pada bendungan, dibutuhkan pengembangan tipe konstruksi selain rockfill dam dan earth fill dam.
Tipe pengembangan konstruksi tersebut yakni, concrete fill dam maupun concrete A.K.H dam yang diklaim bisa menahan gempa.
"Saya yakin para insinyur kita mampu melakukan rekayasa bendungan tersebut. Ini tentu tak lepas dari teknologi gempa yang digunakan," pungkas Basuki.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.