Kompas.com - 21/08/2020, 18:38 WIB
Ilustrasi hotel SHUTTERSTOCKIlustrasi hotel

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri perhotelan merupakan sektor paling terdampak Pandemi Covid-19. Bisnis perjalanan, dan perhelatan acara terhenti sementara.

Kendati Pandemi Covid-19 sudah berlangsung delapan bulan, namun kinerja industri perhotelan di Kawasan Asia Pasifik masih mengalami perlambatan pada kuartal II-2020.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam laporan terbarunya, Colliers international menyebutkan, secara keseluruhan okupansi hotel mengalami penurunan hingga 33,9 persen, sementara tarif rerata harian atau average daily rate (ADR) sekitar Rp 890.000.

Colliers mencatat, okupansi sebagian besar hotel di Asia Pasifik kecuali China, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Korea Selatan mengalami penurunan 40 persen.

Baca juga: Hingga 2022, Surabaya Bakal Menambah 3 Hotel Bintang Lima

Selain mengalami penurunan okupansi, pendapatan per kamar yang tersedia atau revenue per available room (RevPAR) hotel-hotel di kawasan ini turut anjlok sebesar 69,9 persen year on year.

Ke depan, prospek ekonomi global diperkirakan akan tetap lemah dalam waktu dekat mengingat ketidakpastian dan risiko gelombang baru Covid-19 yang sedang berlangsung.

Oleh karena itu, prospek industri perhotelan di Asia Pasifik diperkirakan akan meredup dalam waktu dekat.

Meski demikian, Executive Director and Head of Hotels & Leisure for Valuation & Advisory Services, Asia, Govinda Singh yakin industri ini akan kembali khususnya ketika kegiatan dan perjalanan pulih.

Ilustrasi - Kamar hotelShutterstock/Dragon Images Ilustrasi - Kamar hotel
Indonesia tak luput dari situasi ini. Industri perhotelan di Jakarta, Surabaya, dan Bali langsung terpengaruh. Hal ini ditandai dengan berkurangnya jumlah tamu serta kegiatan bisnis.

Head of Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto menyebut, kondisi tersebut membuat manajemen hotel pada umumnya meminimalisasi biaya operasional.

Baca juga: Demi Bertahan di Tengah Pandemi, Hotel Ini Jadi Co-Working Space

Adapun cara yang ditempuh adalah dengan mengurangi jumlah pegawai, memanfaatkan properti mereka secara selektif, hingga menutup sementara operasi mereka.

Ferry menuturkan, hotel di Jakarta dan Surabaya kemungkinan besar membutuhkan waktu lebih lama untuk pemulihan.

Ini karena, keberlangsungan bisnis hotel di kedua kota besar di Indonesia tersebut perlu didorong lebih banyak aktivitas bisnis.

Bukan hanya Jakarta dan Surabaya, kinerja hotel di Bali juga dinilai membutuhkan waktu lama untuk kembali pulih.

"Bali kemungkinan akan bergantung pada wisatawan lokal untuk mendorong industri perhotelan dalam situasi pasar yang lesu saat ini," kata Ferry dalam laporan yang dikutip Kompas.com, Jumat (21/8/2020).

 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.