"Food Estate" dan Kilas Balik Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar

Kompas.com - 24/06/2020, 07:00 WIB
Ilustrasi sawah SHUTTERSTOCK.com/JET ROCKKKKIlustrasi sawah

Belum lagi, permukaan air yang tersisa pada irigasi, jauh di bawah permukaan sawah. Akibatnya, sebagian sawah mengering dan meninggalkan retakan.

Dari rencana luas sawah 2.500 hektar, hanya sekitar 200 hektar yang bisa dialiri air.

Padahal, pada waktu itu, Presiden Soeharto dijadwalkan melakukan panen perdana produksi sawah dari proyek tersebut pada Oktober 1997.

Hal ini terjadi karena dua saluran primer induk (SPI) yang dibuat lurus membelah Sungai Kahayan-Kapuas-Barito tidak berfungsi sama sekali sebagai pengumpul air.

SPI tersebut memotong kubah gambut sedalam 10 meter serta tidak mengikuti kontur ketiga sungai.

Akibatnya, SPI malah mengeringkan kubah gambut. Di beberapa lokasi, air saluran tidak mengalir hingga menurunkan tingkat keasaman.

Hal ini karena gambut merupakan lahan basah, seperti dikatakan oleh Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah Dimas N Hartono.

Bahkan, ketika musim hujan, gambut akan menyerap air dan akan dikeluarkan pada musim kemarau.

"Jadi sifatnya basah dan tidak boleh kering,"' kata Dimas kepada Kompas.com, Rabu (24/6/2020).

Baca juga: Kebutuhan Irigasi Lumbung Pangan Baru Rp 1,9 Triliun

Pengembangan kanal di lahan PLG juga berakibat pada keringnya lahan. Sebab, kanal-kanal tersebut justru mengeringkan gambut.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X