Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terlalu Bergantung pada China, Pasar Kondominium Thailand Anjlok

Kompas.com, 12 Juni 2020, 14:19 WIB
Suhaiela Bahfein,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 telah memperburuk pasar properti di Thailand, khususnya khususnya kondominium.

Hal tersebut terjadi lantaran salah satu negara dengan pembelian properti terbesar di Thailand, China, mengalami penurunan ekonomi semenjak Corona mewabah.

Akibatnya, Thailand yang sektor propertinya bertumpu pada Negeri Tirai Bambu tersebut harus menelan kenyataan pahit.

Berbagai macam cara telah dilakukan oleh pengemban kondominium untuk menarik kembali para konsumen asal China, namun upaya tersebut tetap tak membuahkan hasil.

Di antaranya pemangkasan harga jual yang rata-rata pada kondisi normal senilai Rp 1,7 miliar kini dijual seharga Rp 1,3 miliar.

Sebagai contoh, hampir 12 warga asli Beijing, teman dari Bobby He, memiliki 3 unit kondominium per orang.

Baca juga: Perkantoran Bangkok Over Supply, Harga Diprediksi Turun

Teman Bobby membeli kondominium yang berlokasi di Bangkok, Phuket, dan Pattaya.

Namun, mereka hanya menempati satu unit, dan sisanya mereka jual atau sewakan kembali guna menunjang hidup pada masa pensiun nanti.

"Mereka berencana tidak membeli unit properti apapun lagi di Thailand. Jadi, satu untuk mereka masih dimiliki, sementara dua unit lainnya dijual atau disewakan untuk penunjang kehidupan mereka," ucap Bobby seperti dikutip dari Nikkei Asian Review, Jumat (12/6/2020).

Thailand diketahui memang memiliki kebijakan mengizinkan Warga Negara Asing (WNA) membeli kondominium dengan porsi sebesar 49 persen dari jumlah kondominium yang tersedia di negara tersebut.

Namun, sejak pandemi Corona, ekonomi Thailand runtuh diikuti penurunan penjualan kondomium.

Pengembang di Thailand, AP Public Company Limited mengalami penurunan penjualan atas 'Aspire' sebanyak 40 persen atau sekitar Rp 283, 6 miliar dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Director of Research and Consultancy Knight Frank Thailand Risinee Sarikaputra mengungkapkan, butuh waktu dua tahun untuk meningkatkan tren penjualan unit kondominium seperti kondisi normal.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau