Basuki Tegaskan, Banjir Jakarta Tanggung Jawab Bersama

Kompas.com - 29/01/2020, 21:30 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjawab wartawan saat meninjau lokasi longsor di Kecamatan Sukmajaya, Bogor, Jabar, Minggu (5/1). BKP Kementerian PUPRMenteri PUPR Basuki Hadimuljono menjawab wartawan saat meninjau lokasi longsor di Kecamatan Sukmajaya, Bogor, Jabar, Minggu (5/1).

BANDUNG, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menegaskan, permasalahan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, terutama terkait infrastruktur merupakan tanggung jawab bersama.

"Saya kan orang (Kementerian) PUPR, sejak saya jadi kepala seksi, kepala subdit, direktur, direktur jenderal, kalau yang namanya ibu kota negara, itu semua (pihak) bertanggung jawab," ujar Basuki usai peresmian Terowongan Nanjung, di Kabupaten Bandung, Rabu (29/1/2020).

Penegasan ini dinyatakan Basuki, menyusul silang pendapat mengenai tanggung jawab pengelolaan jalan bawah tanah atau underpass Gandhi, di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Selama beberapa jam, jalan ini tergenang air setinggi 2,5 meter pada Senin (27/1/2020).

Baca juga: Jelang Uji Coba, Begini Persiapan Keamanan Underpass NYIA

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan Pemprov DKI tetap membantu menyurutkan banjir, meskipun underpass Gandhi berada di bawah wewenang Kementerian Sekretariat Negara ( Kemensetneg).

Senada dengan Anies, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Juaini Yusuf juga mengatakan, Pemprov DKI tida bisa memompa banjir mengingat jalan bawah tanah tersebut merupakan wewenang Kemensetneg.

Juaini menyatakan, Dinas SDA menyalahi aturan jika asal memompa air banjir di underpass Gandhi. Menurutnya, SDA baru bisa memompa air di sana jika dimintai bantuan oleh PPK Kemayoran.

Akan tetapi Basuki menampik pernyataan Juaini. Basuki mengaku turun langsung ke lapangan begitu mendengar kabar underpass Gandhi dilanda banjir.

Basuki mengetahui air banjir baru surut sekitar 70 sentimeter, padahal sudah dipompa sepanjang malam.

"Saya ke lapangan, saya mau ke Yogyakarta pukul 11.00 WIB. Tapi saya coba lihat ternyata memang masih tebal, kedalaman masih 7 meter, lebarnya 8 meter, panjangnya 100 meter. Jadi berapa meter kubik itu? Pompanya hanya ada 2," ungkap Basuki.

Mengetahui hal tersebut, Basuki pun mengerahkan 12 unit pompa milik Kementerian PUPR. Setelah berada di sana, baru diketahui aset tersebut milik Kemsetneg.

"Saya kemarin ke Kemayoran. Saya enggak ngerti itu apa, saya enggak ngerti itu kewenangan siapa, tapi itu di Jakarta, kalau ada apa-apa saya ikut tanggung jawab," kata Basuki.

Dia menegaskan, tidak seharusnya pemerintah provinsi atau instansi mana pun memisah-misahkan kewenangan jika terjadi sesuatu di ibu kota negara. Beda halnya jika terjadi provinsi lain.

"Jadi jangan memisah-misahkan, kecuali kalau di provinsi lain. Ini kalau ibu kota negara itu khusus, semua bertanggung jawab. TNI bertanggung jawab, langsung turun. Itu kekhususan ibu kota, jadi semua harus tanggung jawab," tuntas Basuki.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X