Kawasan Industri di Jawa Fokus pada Teknologi dan Padat Karya

Kompas.com - 10/12/2019, 18:00 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Temu Dialog Pengembangan Kawasan Industri Prioritas di Jakarta, Selasa (10/12/2019).
Dokumentasi Kementerian PerindustrianMenteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Temu Dialog Pengembangan Kawasan Industri Prioritas di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan, pemerintah akan terus berupaya mendorong pemerataan ekonomi yang inklusif, melalui pengembangan kawasan industri di luar Jawa. Hal ini sejalan dengan visi mewujudkan Indonesia sentris.

Oleh karena itu, ke depannya, kawasan industri di Pulau Jawa akan difokuskan pada pengembangan industri teknologi tinggi, industri padat karya, dan industri dengan konsumsi air rendah.

Sedangkan, kawasan industri di luar Jawa lebih difokuskan pada industri berbasis sumber daya alam, peningkatan efesiensi sistem logistik dan sebagai pendorong pengembangan kawasan industri sebagai pusat ekonomi baru.

“Pengembangan pusat-pusat ekonomi baru ini perlu terintegrasi dengan pengembangan perwilayahan termasuk dalam pembangunan infrastruktur sehingga dapat memberi efek positif yang maksimal dalam pengembangan ekonomi wilayah,” papar Agus dalam acara dalam acara Temu Dialog Pengembangan Kawasan Industri Prioritas, di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Baca juga: Gencarkan Investasi, Pemerintah Bangun 19 Kawasan Industri Prioritas

Agus mengungkapkan, hingga saat ini sudah ada 103 kawasan industri yang beroperasi, termasuk 20 kawasan industri baru, dengan total cakupan wilayah mencapai 55.000 hektar. 

Sebanyak 58 di antaranya berlokasi di Pulau Jawa. Sisanya, berada di Pulau Sumatera (33 kawasan industri), Kalimantan (8 kawasan industri), dan Sulawesi (4 kawasan industri).

Sementara itu, terdapat 15 kawasan industri yang masih dalam proses konstruksi dan 10 kawasan industri pada tahap perencanaan.

Menurut Agus, selama ini, aktivitas industrialisasi memberikan efek berganda yang luas bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga penerimaan devisa dari eskpor.

Kementerian Perindustrian mencatat, investasi sektor industri pada semester I tahun 2019 mencapai Rp 104,6 triliun.

Penyumbang investasi terbesar dari sektor industri logam, mesin, dan elektronik yang menyentuh angka Rp 266,13 triliun, diikuti industri makanan sebesar Rp 257,47 triliun.

Selanjutnya, industri kimia dan farmasi yang mencapai Rp 217 triliun, industri mineral nonlogam sebesar Rp 98,75 triliun, serta industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain sebesar Rp 96,70 triliun.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X