Makin Padat di 2020, Apartemen Lebih Solutif dan Populer di Jakarta?

Kompas.com - 02/12/2019, 11:14 WIB
Tokyo Art of Living di Main Atrium Senayan City mulai 27 November lalu menghadirkan rangkaian acara inspirasional Pop-up, pameran seni yang instagrammable oleh MoJA Museum, serta diskusi panel. Dok Farpoint Tokyo Art of Living di Main Atrium Senayan City mulai 27 November lalu menghadirkan rangkaian acara inspirasional Pop-up, pameran seni yang instagrammable oleh MoJA Museum, serta diskusi panel.
Editor M Latief

JAKARTA, KOMPAS.com — Farpoint menggandeng Tokyo Tatemono, dua pengembang real estate dari Indonesia dan Jepang, untuk memperkenalkan The Loggia sebagai konsep terbaru transformable living di Jakarta Selatan. Konsep itu ditonjolkan memaksimalkan ruang di lahan yang makin terbatas perkotaan.

Saat kondisi perkotaan semakin padat, permintaan untuk apartemen yang multifungsi dan terasa luas semakin meningkat. Hal tersebut terutama didorong oleh bertambahnya jumlah penduduk yang bermigrasi ke kota-kota besar dan akan mencapai puncaknya pada 2020 mendatang.

Hal itu seperti dinyatakan PWC dalam laporan "Real Estate 2020: Building the Future". Data tersebut juga didukung oleh hasil riset Euromonitor International yang menyatakan dengan kepadatan penduduk 14.000/km2, Euromonitor memprediksi bahwa Jakarta akan jadi salah satu kota terpadat di dunia pada 2030.

"Merespons prediksi di 2020 itu kami melihat bahwa konsep hidup vertikal akan solutif dan lebih populer, bahkan sangat dibutuhkan bagi yang memutuskan untuk tinggal di area perkotaan. Ini solusi atas dua masalah utama sebagian besar penduduk perkotaan, yakni lalu lintas dan produktivitas, terutama di Jakarta sebagai salah satu kota berpenduduk terbesar di dunia," kata Widijanto, Chief Operations Officer (COO) Farpoint, Sabtu (30/11/2019).

Untuk memaparkan konsep itu, lanjut Widijanto, The Loggia mengadakan Tokyo Art of Living di Main Atrium Senayan City mulai 27 November lalu. Acara tersebut menghadirkan rangkaian acara inspirasional Pop-up, pameran seni yang instagrammable oleh MoJA Museum, serta diskusi panel.

Widijanto mengatakan, konsep transformable spaces berfokus pada penggunaan furnitur multifungsi yang akan memaksimalkan rasa lapang dan luas di ruang terbatas Jakarta yang padat. Sementara generasi terus bertambah, terutama generasi milenial yang juga menghadapi tantangan lain.

Ligwina Hananto, CEO QM Financial, mengaku sepakat dengan hal itu. Menurut dia, generasi berikutnya akan dituntut untuk mengubah gaya hidupnya dan kerap berpindah tempat tinggal.

"Ketika baru bekerja atau belum menikah, kemungkinan besar kita akan hidup sendiri sehingga butuh sedikit ruang huni. Dari waktu ke waktu, menuju fase kehidupan berikutnya seperti menikah, akan menambah kebutuhan hunian lebih luas, apalagi setelah punya anak yang terus tumbuh besar. Ketika anak sudah dewasa dan hidup sendiri untuk belajar atau bekerja, kita akan masuk ke fase sarang kosong. Ini yang mendorong kita untuk berpindah lagi, yang tentunya tidak efisien," kata Ligwina.

Untuk itu, perlu jawaban atas hunian untuk segala tahap kehidupan. Konsep transformable spaces pada The Loggia bisa dijadikan alternatif untuk itu.

Dirancang ekslusif oleh studio desain dari Tokyo, Atelier-Bow-Wow (ABW), konsep tersebut bertujuan untuk lebih menghargai dan memanfaatkan ruang fisik dengan menyimpan barang-barang yang sudah tak diperlukan, kemudian membuat ruangan yang dapat ditransformasi sehingga tercipta ruang penyimpanan lebih banyak dan dapat digunakan untuk lebih dari satu fungsi.

Konsep hunian seperti ini akan menjadi tren di kota-kota urban. Konsep ini menekankan “Reversibility into Emptiness” yang diaplikasikan ke dalam desain arsitektur The Loggia. 

"Didesain dengan elemen-elemen yang penuh ruang penyimpanan, transformable furniture, dan ruang keluarga yang luas untuk memuat 8 orang dewasa dan 4 anak-anak. Akan selalu ada tempat untuk menyimpan barang-barang sentimentil Anda,"tambah Widijanto.

Dengan beragam hunian dari 50m2 hingga 117m2, lanjut dia, setiap unit dapat diubah menjadi private sanctuary, daybeds, bunk beds, rattan sliding panels, dan ruang penyimpanan tersembunyi untuk barang-barang lainnya. Di dalam raised berdroom misalnya, bahkan ada area setinggi 60 cm dan di bawahanya orang akan menemukan ruang untuk menyimpan benda-benda yang jarang digunakan sehari-hari tanpa perlu membuangnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X