Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 15/11/2019, 11:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar hukum pertanahan dan properti Eddy Leks menekankan sekali lagi bahwa penghapusan izin mendirikan bangunan (IMB) yang direncanakan pemerintah demi menggenjot investasi perlu ditinjau ulang.

"Saya tetap pada pendapat sebelumnya, bahwa IMB itu izin tata ruang terakhir yang ada dari perizinan lainnya. Jangan dihapus," tegas Eddy menjawab Kompas.com, Kamis (14/11/2019).

Menurut Eddy, jika pemerintah ingin menyederhanakan perizinan, bisa dengan meniadakan perizinan lain dalam proses sebelum IMB. Sebut saja izin prinsip, izin lokasi, izin penggunaan dan pemanfaatan tanah (IPPT).

Langkah pemerintah untuk menghapus IMB, Eddy menilai, Jelas akan melanggar Undang-undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

Baca juga: Penghapusan IMB Masuk Rencana Omnibus Law

UU ini mengamanatkan IMB dan juga Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang wajib dipenuhi pemilik gedung agar para penghuni terjamin keamanan dan keselamatannya selama berada di dalam gedung.

Ilegal dan legal

Lebih jauh Eddy mengkhawatirkan, penghapusan IMB akan membuat pemerintah daerah dan perangkat pelaksananya sulit membedakan bangunan yang legal dan bangunan ilegal.

Selama ini, pemerintah daerah punya kewenangan untuk meghentikan pembangunan sampai pembongkaran jika terjadi pembangunan tanpa IMB.

Jika memang kemudian IMB tidak diperlukan lagi, mungkin akan lebih sulit bagi pemerintah daerah untuk menjustifikasi tindakan pembongkaran gedung.

Namun demikian, bila rencana pemerintah melalui Omnibus Law mengatur subyek yang sama dengan apa yang diatur dalam UU Bangunan Gedung, maka ketentuan di dalam Omnibus Law-lah yang akan berlaku.

Dengan kata lain, meski IMB diatur dalam UU Bangunan Gedung, karena Omnibus Law mengatur peniadaan IMB, maka bagian dari ketentuan IMB dalam UU Bangunan Gedung dianggap tidak berlaku lagi.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badang Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil mewacanakan penghapusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), serta memasukkannya dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Omnibus Law.

Penghapusan IMB dan Amdal ini untuk menciptakan birokrasi yang sederhana agar memudahkan para pengusaha dalam rangka berinvestasi di Indonesia.

Kendati demikian, dalam proses perizinan yang disederhanakan tersebut, Pemerintah dituntut untuk tidak mengorbankan kualitas penataan ruang dan keberlanjutan lingkungan.

Sofyan mengatakan, cara menghapus IMB dan Amdal tapi kualitas tujuan itu tetap bisa tercapai, salah satunya dengan menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

Inovasi penghapusan IMB melalui RDTR dimungkinkan karena terdapat kesamaan substansi yang diatur dalam kedua dokumen ini.

Demikian juga AMDAL, dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup nomor 24 tahun 2018 tentang Pengecualian Kewajiban Menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan untuk Usaha dan/atau Kegiatan yang Berlokasi di Daerah Kabupaten/Kota yang telah memiliki RDTR maka peluang penyederhanaan perizinan melalui penghapusan AMDAL terbuka lebar.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+