Selamat Tinggal "Department Store", Tren Baru: "Mini Anchor"

Kompas.com - 18/10/2019, 15:28 WIB
antrean Uniqlo dan Mal Grand Indonesia Kurnia Kinasihantrean Uniqlo dan Mal Grand Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan gaya hidup dan format berbelanja memaksa para pengembang dan pengelola mal menerapkan strategi dan adaptasi terhadap dinamika bisnis ritel yang sedang berkembang.

Pusat- pusat belanja tidak lagi mengandalkan penyewa utama department store seperti masa-masa dua dekade silam, melainkan makin agresif melirik penyewa-penyewa mandiri (otonom) yang membutuhkan ruang lebih kecil.

Mudah dimafhumi jika dalam beberapa tahun terakhir, nafas department store tak lagi panjang.

Sebagian besar menutup gerainya di mal-mal tertentu, terutama kelas menengah ke atas, sebut saja Matahari di Mal Taman Anggrek, The Central di Mal Central Park, Metro di Pacific Place, dan Debenhams di Kemang Village dan Senayan City.

Baca juga: Bangun 15 Pusat Belanja, NWP Retail Siapkan Rp 2,8 Triliun

Head of Advisory JLL Vivin Harsanto mengatakan, konsep pusat belanja telah berubah dan mengalami adaptasi secara fundamental.

"Orang tak lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk belanja, melainkan makan, ngobrol, dan ngopi. Yang sedang tren adalah experience. Itulah mengapa penyewa F and B, dan entertainment serta gerai-gerai mandiri akan makin tumbuh," tutur Vivin menjawab Kompas.com, Rabu (16/10/2019).

Starbucks Reserve BogorStarbucks Indonesia Starbucks Reserve Bogor
Gerai-gerai mandiri ini, lanjut dia, membutuhkan ruang lebih kecil dibanding department store, seperti Uniqlo, H&M, Ace Hardware, Wall Street English dan sejumlah tenant  F and B, serta hiburan.

Meski luas ruang lebih kecil, namun para peritel ini berlomba mendesain gerainya dengan unsur-unsur visual lebih menarik dan instagramable

Itulah mengapa, gerai-gerai yang menawarkan experience, atau pengalaman tertentu, jauh lebih ramai dikunjungi ketimbang yang biasa saja.

Perital seperti ini yang bakal makin mendominasi untuk masa-masa yang akan diatang. Pengunjung juga menjadikan mal tak lagi sebagai pusat belanja, melainkan ruang pertemuan, ruang interaksi, dan bahkan menjalin relasi bisnis.

Baca juga: Ruang Kosong Pusat Belanja di Jakarta Terus Bertambah

"Tren sekarang adalah juga bekerja di mal, atau mal bisa jadi sebagai tempat kerja. Lihat saja, co-working space juga menjamur di mal-mal," imbuh dia.

Sementara secara umum, kinerja pusat belanja di Jakarta selama kuartal III-2019 terpantau stabil dan cukup aktif terutama dari peritel F and B dan fashion.

Ilustrasi malShutterstock Ilustrasi mal
Okupansi juga menunjukkan angka yang secara psikologis masih kuat yakni 88 persen dari total luas ruang kumulatif 2,9 juta meter persegi. Hal ini karena pasokan baru, masih sangat terbatas.

Dampaknya terhadap harga sewa pun cukup kuat yakni tumbuh sekitar 1,2 persen menjadi rata-rata sekitar Rp 530.000 per meter persgei per bulan, di luar service charge.

"Kendati demikian, beberapa pengembang properti besar masih aktif membangun pusat belanja dengan konsep mixed use yang terkoneksi dengan perkantoran dan apartemen," ujar Head of Retail JLL cecilia Santoso.

Ritel dengan konsep ini akan datang dari Kompleks Indonesia 1 di Jl Thamrin yang dikembangkan PT China Sonangol Media Investment, One Satrio di Kuningan milik PT Jakarta Setiabudi International Tbk, dan Southgate di Tanjung Barat milik Sinarmas Land.

Kehadiran ketiganya menambah luas ruang ritel di kawasan CBD Jakarta 329.000 meter persegi.

 

 

 

 



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X