Stasiun Gambir atau Manggarai? Benahi Dulu Infrastruktur Pendukungnya

Kompas.com - 09/10/2019, 10:53 WIB
Penumpukan penumpang terjadi di stasiun Manggarai. Penumpukan terjadi lantaran kereta terhambat masuk karena tawuran yang terjadi di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Rabu (4/9/2019) KOMPAS.COM/WALDA MARISONPenumpukan penumpang terjadi di stasiun Manggarai. Penumpukan terjadi lantaran kereta terhambat masuk karena tawuran yang terjadi di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Rabu (4/9/2019)

SAAT ini tengah terjadi polemik besar terkait rencana pemerintah untuk memindahkan fungsi stasiun Gambir ke stasiun Manggarai.

Rencananya tahun 2021 kereta api antar kota akan dipindahkan semua ke stasiun Manggarai, sedangkan stasiun Gambir hanya untuk kereta commuter line (KCL).

Sebenarnya apabila telah terjadi konsultasi publik dan sosialisasi matang, barangkali polemik perpindahan fungsi stasiun ini tidak perlu terjadi lagi.

Memang telah ada kajian dari Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 1985 dan 1991 untuk menjadikan Manggarai sebagai terminal atau stasiun terpadu atau hub besar berbasis rel.

Namun, karena eksekusinya terlalu lama yakni 25 tahun setelah kajian, maka perubahan mind set  transportasi tidak diprediksikan pada tahun JICA melakukan kajian.

Saat itu tidak diprediksikan lonjakan perubahan kepadatan kendaraan pribadi. Menurut data Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI), pengguna kendaraan umum di Jakarta masih sekitar 50 persen hingga 60 persen.

Kini pengguna kendaraan umum sebesar 23 persen–25 persen. Jaringan jalan dari dulu hingga sekarang juga tidak ada perubahan yang signifikan karena pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen per tahun bila dibandingkan kendaraan baru sebanyak 12-16 persen per tahun.

Saat itu juga tidak diprediksikan transportasi online akan booming seperti sekarang. Akibatnya akses menuju ke Stasiun Manggarai tidak berbentuk dan tidak tertata. Susah payah terjebak kemacaten bila kita memaksa menggunakan kendaraan menuju Manggarai.

Bisa kita katakan bahwa desain Stasiun Manggarai baru saat ini megah dan indah, namun apabila tidak didukung oleh sistem aksesblilitas menuju stasiun, nampaknya sulit diharapkan.

Untuk referensi, Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebuah bandara baru yang megah tidak didukung oleh infrastruktur akses menuju bandara, okupansi bandara juga sulit mencapai ideal sesuai load-factor yang diinginkan.

Kembali kepada Stasiun Manggarai, bila tahun 2021 akan menjadi Station Central (inter-city connection), di sana akan terjadi transit antara kereta antar kota, KA Bandara dan Kereta Commuter Line.

Konsep pola desainmya mungkin mengambil dari Stasiun Waterloo, London. Bedanya di Manggarai tidak  terdapat parkir basement di bawah stasiun

Ada 726 perjalanan kereta api setiap hari di Manggarai, apabila dengan KA Bandara akan bertambah 40 perjalanan KA tiap hari. Total ada 766 perjalanan KA, sangat sibuk secara grafis, namun terlalu kecil untuk akses dan moda pengumpannya.

Saya tidak terlalu yakin dalam waktu dua tahun bisa membangun infrastruktur jalan sesuai load factor Manggarai. Di sinilah pembangunan perkeretaapian oleh Pemerintah pusat (DJKA) yang tidak diimbangi dengan pembangunan jalan oleh Kementerian PUPR atau Dinas PU DKI Jakarta.

Infrastruktur kereta api sudah dibangun kapasitas baru namun tidak pararel  dengan pembangunan infrastruktur jalan. Akhirnya, kelak masyarakat pengguna yang akan kesulitan mengakses stasiun Manggarai.

Saat ini di Manggarai ada 100.000 penumpang per hari untuk transit. Kalau ditambah dengan penumpang KA antar kota, jumlah penumpang transit akan lebih besar lagi.

Memang integrasi fisik dengan angkutan massal bus Metrotrans (TransJakarta) telah ada, yang saat ini pun sangat minim okupansinya. Bus metrotrans ini lebih tepat untuk pengguna kereta komuter yang minim bawaan.

Sebaliknya pengguna kereta api bandara atau kereta api antar kota niscaya membawa barang bawaan banyak akan enggan menggunakan bus Metrotrans TJ tersebut.

Pengguna kereta api bandara atau kereta api antar kota pasti akan memilih diantar-jemput mobil pribadi atau taksi.

Selain itu, hingga kini pun belum ada ruang parkir (park and ride) dan ruang antar drop off (kiss and ride).

Saya menyarankan, sebaiknya dikaji ulang untuk rencana pemindahan fungsi stasiun ini sebelum akses jalannya siap.

Stasiun besar umumnya berada dijalan-jalan protokol bukan jalan kecil seperti akses di Manggarai ini.

Ibarat jalan “kampung” menuju Manggarai belum lagi rawan sosial di kawasan tersebut kerap terjadi tawuran massal antar kelompok warga yang mengganggu perjalanan kereta.

Lebih baik lagi, Stasiun Gambir ditambah dua jalur lagi, khusus untuk kereta commuter line, yang berpotensi mengintegrasikan fungsional antar moda.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X