35.000 Kendaraan Per Hari Diprediksi Lewat Tol Layang Jakarta-Cikampek

Kompas.com - 23/09/2019, 12:44 WIB
Pembangunan Jalan layang (Flyover) Cipendawa, Jalan Raya Siliwangi, Kota Bekasi Capai 40 persen, Jumat (28/12/2018). KOMPAS.com/DEAN PAHREVIPembangunan Jalan layang (Flyover) Cipendawa, Jalan Raya Siliwangi, Kota Bekasi Capai 40 persen, Jumat (28/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak kurang dari 70.000 kendaraan yang melintas di ruas Tol Jakarta-Cikampek.

Direktur Operasi PT Jasa Marga (Persero) Tbk Subakti Syukur berharap, beroperasinya Tol Layang Jakarta-Cikampek II (Elevated) akan mendistribusi volume lalu lintas kendaraan di ruas tol eksisting.

"Kami targetkan ada distribusi sekitar 40 hingga 50 persen dari angka tersebut yang akan naik ke jalan tol layang," kata Subakti dalam keterangan tertulis, Minggu (22/9/2019).

Saat ini, imbuh dia, Jasa Marga tengah berkomunikasi dengan pemerintah terkais sistem pengoperasiannya. Pihaknya pun mengusulkan adanya integrasi tarif agar masyarakat tertarik melewatinya.

Baca juga: Ke Bandung Lewat Tol Layang Jakarta-Cikampek, 1 Jam Lebih Cepat

"Kami usulkan sistem tarif terintegrasi agar masyarakat dapat mudah memilih sesuai kebutuhan mau lewat atas atau lewat bawah," ujar Subakti.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit berharap, separuh pengguna Tol Jakarta-Cikampek eksisting dapat berpindah ke tol layang.

Dari total lalu lintas harian rata-rata, sekitar 80 persen yang melintas di ruas eksisting merupakan kendaraan Golongan I atau kendaraan pribadi.

"Harapan kita kan market terbesar Golongan I. Dari 80 persen, separuh bisa ke atas, separuh bisa ke bawah terbagi dua," kata Danang saat meninjau proyek, Kamis (19/9/2019).

Pemerintah, imbuh dia, kini tengah menyusun skema tarif yang dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakannya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Desy Arryani mengusulkan, untuk sementara hanya kendaraan Golongan I yang boleh melintas di ruas tol layang.

Hal itu disebabkan masih banyak truk yang melebihi muatan atau over dimension over load (ODOL) yang lalu-lalang di ruas tol eksisting.

Menanggapi usulan tersebut, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyetujuinya.

Meski dari aspek struktur tol layang ini mampu untuk menahan berat kendaraan bertonase besar (Golongan V), namun pembatasan ini juga agar membuat arus lalu lintas kian lancar.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X