Walhi: Jangan Percaya Klaim Pemerintah Umur Bangunan 1.000 Tahun!

Kompas.com - 17/09/2019, 23:09 WIB
Perbaikan Jembatan Cisomang, Tol Purbaleunyi, Purwakarta, Kamis (23/2/2017). Arimbi RamadhianiPerbaikan Jembatan Cisomang, Tol Purbaleunyi, Purwakarta, Kamis (23/2/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak beberapa waktu terakhir, pemerintah terus memperbaiki kualitas infrastruktur yang dibangun.

Tujuannya, agar proyek yang nilainya dapat mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah itu dapat bertahan lama.

Salah satu teknologi yang diterapkan yakni memastikan setiap konstruksi dapat tahan gempa hingga 1.000 tahun sejak beroperasi berdasarkan kode standar keamanan bangunan.

Beberapa proyek itu, misalnya, Jembatan Holtekamp di Jayapura, proyek enam ruas Tol Dalam Kota Jakarta, hingga Jembatan Kali Kenteng di ruas Tol Semarang-Solo.

Baca juga: Waspada, Erupsi Gunung Merapi Ancam Tol Solo-Yogyakarta

Namun, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi) mengimbau masyarakat tak terjebak dengan sejumlah standar bangunan tahan gempa yang dibuat pemerintah.

Sebab, menurut Direktur Eksekutif Walhi Yogyakarta Halik Sandera, gempa tak bisa diprediksi, kekuatan dan kapan waktu terjadinya.

"Kita jangan terjebak pada bangunan tahan gempa karena gempa itu tidak bisa diprediksi. Karena megathrust yang diprediksi di atas (magnitudo) 9, apa yang disampaikan pemerintah misalnya Bandara Kulonprogo didesain hanya (magnitudo) 8,8, kalau misalnya kejadian 9 itu bagaimana?," tutur Halik menjawab Kompas.com, Selasa (17/9/2019).

Ia menambahkan, parah atau tidaknya dampak kerusakan akibat gempa juga bukan dipicu faktor kekuatan semata.

Baca juga: Pembangunan Infrastruktur di Pulau Jawa Tingkatkan Risiko Bencana

Ketika gempa bumi mengguncang wilayah Yogyakarta pada 2006 lalu, kekuatannya mencapai hanya magnitudo 5,6.

"Tapi kerusakan infrastrukturnya luar biasa karena durasinya cukup lama," ungkapnya.

Poster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.KOMPAS.com/AMIR SODIKIN Poster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.
Halik menambahkan, di tengah masifnya rencana pembangunan infrastruktur seperti di wilayah selatan Pulau Jawa, pemerintah dinilai kurang memperhatikan aspek potensi kerawanan.

Sejauh ini, wilayah selatan Jawa diketahui memiliki potensi terjadinya megathrust yang dapat menghancurkan infrastruktur yang ada.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X