Penyusunan Trase Tol Dalam Kota Batam Rampung Akhir 2019

Kompas.com - 07/09/2019, 21:02 WIB
Taman bernuansa budaya itu mengambil tema Melayu sebagai ikon baru Kota Batam. Nama lengkap taman tersebut adalah Taman Tuah Melayu Batam yang telah digarap PGN selama beberapa waktu belakangan ini. KOMPAS.com/ HADI MAULANATaman bernuansa budaya itu mengambil tema Melayu sebagai ikon baru Kota Batam. Nama lengkap taman tersebut adalah Taman Tuah Melayu Batam yang telah digarap PGN selama beberapa waktu belakangan ini.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan penyususunan trase Tol Dalam Kota Batam akhir 2019.

Seperti diketahui, pekerjaan Tol Dalam Kota Batam termasuk dalam salah satu penugasan yang diberikan pemerintah kepada PT Hutama Karya (Persero).

Meski demikian, ruas ini tidak termasuk dalam 11 ruas dari 24 ruas Tol Trans Sumatera yang dirancangsebagai jalan tol prioritas.

Kepala Divisi Pengembangan Jalan Tol HK Agung Fajarwanto menuturkan, jalan bebas hambatan ini akan terbentang mulai dari Bandara Hang Nadim hingga wilayah Batu Ampar.

"Panjangnya sekitar 25 kilometer," kata Agung di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Baca juga: Tol Cisumdawu, Jalan Bebas Hambatan Terindah di Indonesia

Soal kebutuhan lahan, ia menuturkan, hal itu sepenuhnya menjadi tugas pemerintah dan bukan termasuk di dalam komponen investasi.

Perseroan, imbuh dia, hanya bertugas untuk membangun konstruksi jalan tersebut.

"Kalau tantangan teknis ya, sempit, datar, rawa, gambut, itu tidak ada yang enggak bisa dijawab dengan kemajuan teknologi," kata dia. 

Menurut Fajar, kemungkinan sebagian besar dari konstruksi tol dalam kota ini merupakan struktur layang. Sebab, ada kemungkinan trase yang dilalui merupakan wilayah yang cukup padat penduduk. 

"Sebesar 70 persen mungkin. Tapi tergantung trasenya nanti," ujarnya.

Adapun untuk kebutuhan investasi, hingga saat ini belum dirumuskan. Namun sebagai gambaran, untuk menggarap konstruksi biasa atau at grade biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 100 miliar per kilometer.

Sementara bila konstruksinya layang, anggaran yang diperlukan bisa mencapai 3-4 kali lipatnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X