Sampai Akhir 2019, Bisnis Rumah Tapak Masih Potensial

Kompas.com - 27/08/2019, 09:26 WIB
Ilustrasi. ShutterstockIlustrasi.
Editor Latief

JAKARTA, KOMPAS.com - Aulia Firdaus, CEO Repower Asia Indonesia, mengaku optimistis rumah tapak masih diminati konsumen, terutama dari segmen keluarga, termasuk keluarga usia muda. Karena itu, Repower Asia terus mengembangkan proyek rumah tapak di Depok, Jawa Barat.

Aulia mengatakan pasar properti hunian di Indonesia masih potensial. Selain ditopang oleh laju pertumbuhan penduduk, juga karena adanya selisih pasokan dan permintaan ( backlog) hunian di Indonesia masih tinggi, yakni 11,4 juta unit.

"Makanya, kami yakin peluang bisnis hunian tapak ataupun vertikal itu masih cukup besar," ujar Aulia di Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Dalam kaca mata pengamat bisnis properti, Panangian Simanungkalit, sampai akhir 2019 nanti permintaan rumah tapak bakal meningkat berkisar 6-8 persen dibandingkan dengan 2018 lalu.

"Kapitalisasi pasar perumahan sampai dengan akhir 2019 saya perkirakan berkisar Rp 110-120 triliun," kata Panangian.

Sementara itu, melihat tingginya kebutuhan hunian, pemerintah sejak 2015 lalu sudah mencanangkan Program Sejuta Rumah (PSR). Lewat program ini pemerintah menggulirkan dana subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Salah satu dana subsidi yang digulirkan pemerintah adalah kredit pemilikan rumah (KPR) berskema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan ( FLPP). Sejak 2010 hingga 24 Agustus 2019 jumlah penyaluran subsidi melalui KPR berskema FLPP mencapai Rp 41,94 triliun untuk 631.122 rumah.

Sepanjang rentang empat tahun terakhir, 2015-2018, pemerintah mengklaim bahwa torehan PSR terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015 disebutkan bahwa PSR merealisasikan sebanyak 699.770 unit.

Lalu, tahun 2016 (805.169 unit), 2017 (904.758 unit), dan 2018 (1.132.621 unit). Untuk 2019, pemerintah menargetkan pembangunan 1,25 juta rumah.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Khalawi A Hamid pernah mengatakan, tantangan ke depan adalah ketersediaan lahan di kawasan strategis, terutama untuk membangun rumah terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Salah satu cara mengatasi hal itu misalnya dengan membangun rumah susun (rusun) dekat dengan stasiun kereta atau transit oriented development (TOD). Lalu, membangun rusun dengan kombinasi pasar seperti Rusun Pasar Rumput, Jakarta setinggi 25 lantai berjumlah tiga menara.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X