Pabrik dan Pusat Riset Obat Anti-kanker di Karawang Mulai Dibangun

Kompas.com - 09/08/2019, 16:42 WIB
Acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik dan R&D Center PT Brightgene Biomedical Indonesia di kawasan KNIC milik CFLD International. Pembangunan pabrik dan R&D Center ini akan membantu pemerintah Indonesia dalam mewujudkan kemandirian bahan baku obat dan menekan anggaran nasional untuk biaya pengadaan obat-obatan. Upacara peresmian pabrik PT Brightgene Biomedical Indonesia di Karawang New Industry City (KNIC) dihadiri oleh Nila F. Moeloek, Menteri Kesehatan RI;  Djauhari Oratmangun, Dubes RI untuk Tiongkok; Rita Endang, Deputi BPOM; PemKab Karawang; Direksi Brightgene Biomedical; serta Perwakilan CFLD International Dokumentasi CFLDAcara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik dan R&D Center PT Brightgene Biomedical Indonesia di kawasan KNIC milik CFLD International. Pembangunan pabrik dan R&D Center ini akan membantu pemerintah Indonesia dalam mewujudkan kemandirian bahan baku obat dan menekan anggaran nasional untuk biaya pengadaan obat-obatan. Upacara peresmian pabrik PT Brightgene Biomedical Indonesia di Karawang New Industry City (KNIC) dihadiri oleh Nila F. Moeloek, Menteri Kesehatan RI; Djauhari Oratmangun, Dubes RI untuk Tiongkok; Rita Endang, Deputi BPOM; PemKab Karawang; Direksi Brightgene Biomedical; serta Perwakilan CFLD International

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang kota industri, CFLD International, secara resmi memulai pembangunan pabrik milik PT Brightgene Biomedical Indonesia, di Karawang New Industry City (KNIC), Kamis (8/8/2019).

Pabrik yang dirancang seluas 25.000 meter persegi ini akan menjadi pusat produksi dan research and development  Brightgene untuk produk obat anti-virus dan anti-kanker, serta pabrik formulasi untuk produk sitotoksik dan hormon.

Brightgene berharap bisa meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Indonesia dengan menjadi salah satu produsen farmasi berkualitas tinggi di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan memiliki pasar farmasi terbesar se-Asia Tenggara yang diprediksi akan mencapai nilai 10,1 miliar dolar AS atau ekuivalen Rp 143,3 miliar pada tahun 2021.

"Kami berharap bisa mendukung industri farmasi nasional yang mandiri dan kompetitif. Kami berterima kasih atas dukungan Pemerintah Indonesia dan juga CFLD International," kata Komisaris PT Brightgene Biomedical Indonesia Johannes Setijono, dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Jumat (9/8/2019).

Baca juga: Otomotif dan Logistik Kuasai Transaksi Kawasan Industri

Johannes optimistis infrastruktur di KNIC bisa memaksimalkan kapasitas pabrik dan pusat research and development Brightgene yang menelan biaya investasi Rp 580 miliar.

Karena itu, dia memperkirakan pabrik Brightgene akan dapat menyerap banyak tenaga kerja terutama para peneliti profesional yang merupakan elemen penting bagi kemajuan perusahaannya.

Dalam proses pendirian pabrik Brightgene di KNIC, CFLD International akan melengkapi dengan layanan terintegrasi mencakup penyediaan sistem pembuangan (waste management system), dan bantuan dalam pengurusan perizinan sejak proses pendirian hingga operasional perusahaan.

“Kami bertanggung jawab memberikan layanan satu pintu bagi semua tenant. Hal ini kami lakukan guna mendukung usaha mereka, sehingga semua proses berjalan dengan lancar dan mereka mampu beroperasi dengan baik," tutur juru bicara CFLD International.

Menteri Kesehatan Indonesia Nila Djuwita F Moeloek menambahkan, kedatangan Brightgene Biomedical sebagai produsen obat antikanker diharapkan bisa membantu pemerintah dalam menekan anggaran kesehatan nasional.

Menurut Nila, kehadiran Brightgene Biomedical akan membantu pemerintah mewujudkan kemandirian bahan baku obat-obatan.

"Dengan berkembangnya industri bahan baku obat, maka akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat dan membantu Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan milik pemerintah Indonesia," papar Nila.

Untuk diketahui, PT Brighgene Biomedical Indonesia lahir dari Brightgene yang telah 20 tahun beroperasi di Suzhou, China, bersama para profesional farmasi Indonesia berpengalaman agar bisa melakukan produksi obat-obatan secara lokal.

Brightgene Indonesia menargetkan dapat memproduksi bahan farmasi aktif untuk obat anti kanker, anti-virus, sitotoksik, dan obat hormon dalam jumlah dan harga yang kompetitif.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X