Mendadak Perencana

Kompas.com - 05/08/2019, 11:38 WIB
Ilustrasi arsitek yang bekerja.Shutterstock Ilustrasi arsitek yang bekerja.

DALAM beberapa hari belakangan ini, perencanaan kota menjadi topik yang hangat diperbincangkan masyarakat. Bahkan banyak diskusi publik membahas aspek teknis, sosial, ekonomi, terutama aspek politis dari perencanaan kota.

Banyak pihak mendadak jadi perencana, bak suatu pekerjaan sehari-hari yang dapat diselesaikan melalui diskusi semata.

Sebagai perencana kota, saya banyak berdiskusi dengan para perencana utama di negeri ini. Selain terlibat dalam perencanaan dan desain kota-kota baru, saya beruntung dapat belajar dari teman seprofesi perkembangan kota-kota Indonesia dari Aceh sampai Papua. Dari Agam sampai Labuan Bajo, Wakatobi ke Banjarmasin.

Begitu kaya kota-kota kita tumbuh dan berkontribusi dalam perkembangan mahzab perencanaan khas Indonesia.

Pada era 1890-an, Ebenezer Howard melalui gerakan garden cit- nya membentuk kota-kota masyhur dengan green belts menciptakan zoning kota dan satelitnya yang dipenuhi taman. Mahzab ini diawali buku Howard yaitu To-morrow: A Peaceful Path to Real Reform.

Pada saat bersamaan, kota-kota Indonesia pun mengalami modernitasnya, terutama kota-kota kaya Hindia Belanda seperti Bandung sebelum menjadi kotapraja atau gementee. Bupati R.A.A Martanegara menjadi bapak kota modern Indonesia dengan banyaknya inovasi seperti dalam transportasi, kesehatan dan pembangunan kota.

Baca juga: City in The Forest, Konsep Pengganti Jakarta

Selain berkembangnya kawasan dagang utama zaman itu seperti Bragaweg, banyak bangunan modern baru mewarnai kota termasuk gerakan Freemason, yang sering dihubungkan dengan iluminati dan teori konspirasi.

Kira-kira 50 tahun kemudian, pada tahun 1933 Le Corbuzier dan kawan-kawan dalam Athens Charter memulai gerakan modernitas kota, dengan menghasilkan intensitas kota inti dan hutan beton.

Kota-kota pun mengikutinya dan hasilnya adalah kota besar yang semakin kompleks pada masa kini. Maka ketika gerakan Habitat 1 di Vancouver tahun 1976, kemudian Istambul dan New Urban Agenda di Quito 2016 bergulir untuk mencari makna masa depan dari livability, kembali kita semua mencari mahzab merencana yang relevan untuk wilayah dan lokalitas dunia.

Para perencana kota di negara kita saat ini mendapatkan kesempatan langka untuk membangun mahzab baru perencanaan kota di Indonesia.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X