Cerita Basuki yang Kesal Bangun Rumah Dipersulit sampai Tarik Insinyur

Kompas.com - 18/07/2019, 16:22 WIB
Warga memeriksa rumah mereka yang roboh di desa Sembalun, pulau Lombok pada 20 Agustus 2018 setelah serangkaian gempa bumi dicatat oleh seismolog sepanjang 19 Agustus. Menurut laporan pihak berwenang pada Senin (20/8/2018), setidaknya 10 orang tewas setelah serangkaian gempa kuat mengguncang pulau Lombok. Ini merupakan gempa baru yang berbeda dari gempa berkekuatan M 7,0 pada Minggu (5/8/2018) yang telah menewaskan ratusan nyawa dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Warga memeriksa rumah mereka yang roboh di desa Sembalun, pulau Lombok pada 20 Agustus 2018 setelah serangkaian gempa bumi dicatat oleh seismolog sepanjang 19 Agustus. Menurut laporan pihak berwenang pada Senin (20/8/2018), setidaknya 10 orang tewas setelah serangkaian gempa kuat mengguncang pulau Lombok. Ini merupakan gempa baru yang berbeda dari gempa berkekuatan M 7,0 pada Minggu (5/8/2018) yang telah menewaskan ratusan nyawa dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan rumah instan sederhan sehat (RISHA) di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyisakan kekesalan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Ia bercerita, setelah gempa mengguncang wilayah tersebut tahun lalu, Kementerian PUPR mengirim 450 insinyur muda untuk membantu proses pemulihan infrastruktur.

Salah satunya untuk membangun RISHA lantaran kebutuhan hunian korban terdampak gempa cukup mendesak, mengingat sebagian besar rumah mereka rusak.

Baca juga: 400 Insinyur Muda Mulai Disebar di Sejumlah Wilayah NTB

"Tapi Pak Bupati bilang, agak dilonggarkan dan juga lebih cepat. Saya bingung, ada apa ini," cerita Basuki saat Lokakarya Nasional Peduli Gempa dan Gunung Api di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Menurut dia, dalam membangun hunian, pemerintah pusat selalu menekankan pembangunan yang lebih baik. Karena itu, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 50 juta per rumah yang berasal dari APBN.

Adapun teknologi RISHA dipilih karena dinilai sudah teruji tahan gempa dan cukup cepat pada saat proses instalasinya.

Baca juga: Dikritik Fahri, Ini Jawaban Menteri Basuki Soal Risha

"Tapi karena perilaku itu, sudah tahu gempa, mau dibangun lebih baik lagi, yang tadinya rumah tahan gempa, diubah jadi rumah ramah gempa. Iki opo (ini apa)? Malah ingin mengurangi spesifikasi dan kami dianggap menghambat," ungkap Basuki.

"Saya bilang, kalau ada uang APBN yang masuk, saya yang bertanggung jawab. Karena kalau nanti terjadi gempa, runtuh lagi, saya yang tanggung jawab," imbuhnya.

Mendapati perilaku tersebut, Basuki akhirnya, menarik seluruh insinyur muda yang telah ditugaskan untuk kembali ke pusat.

Kendati demikian, ia meyakinkan, bahwa pemerintah pusat terus memberikan pendampingan bila ada masyarakat yang ingin membangun RISHA.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X