Ini Penyebab Turunnya Kejayaan ITC (III)

Kompas.com - 05/07/2019, 07:00 WIB
Salah satu sudut di ITC Mangga Dua yang sepi pengunjung. KOMPAS.com/ VERRYANA NOVITA NINGRUMSalah satu sudut di ITC Mangga Dua yang sepi pengunjung.

Di bawah 80 persen

Fenomena badai ritel sejatinya juga menghantam pusat belanja sewa atau lease mall di Jakarta dan kawasan Bodetabek, ditandai stagnasi permintaan yang berpengaruh pada merosotnya tingkat hunian. Akibatnya tarif sewa pun tertekan.

Dalam catatan Colliers International Indonesia, stagnasi cenderung menurun sudah terekam sejak tahun 2012. Ini artinya sudah tujuh tahun atau nyaris sewindu kondisi bisnis ritel kita makin terpuruk.

Tingkat hunian pusat belanja di Jakarta yang masih berada pada level di atas 90 persen pada 2012, mengalami kemerosotan pada tahun berikutnya menjadi 89 persen, untuk kemudian anjlok di bawah 80 persen pada Kuartal II-2019.

Demikian halnya tingkat hunian pusat belanja di Bodetabek yang tercatat 85 persen pada 2012, kini sudah berada pada angka 80 persen.

"Bahkan, penurunan tingkat hunian ini terus berlanjut, berturut-turut selama dua kuartal terakhir pada tahun 2019," cetus Senior Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto.

Menurut Ferry, salah satu penyebab sepinya pusat belanja baik trade center maupun lease mall karena masyarakat cenderung untuk belanja ke supermarket terdekat atau melalui daring, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sementara menurut Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alexander Stefanus Ridwan, sepinya trade center karena kurangnya inovasi. Padahal hal ini adalah salah satu syarat agar bisa bertahan di industri ritel.

Untuk itu, pedagang dan pengelola perlu menyatukan pendapat. Namun dengan kondisi dan model bisnis strata title seperti ini, baik pengelola maupun pemilik kios susah untuk menyatukan visi bersama.

Sedangkan CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono berpendapat, penyebab trade center atau pun lease mall yang ditinggalkan oleh para pelanggan karena mereka tidak mau berubah.

"Untuk itu, pengelola harus melakukan pendekatan ke para pemilik kios. Bahkan pada era digital seperti ini, peritel juga harus mengikuti perkembangan zaman," ucap Hendra.

Salah satunya adalah dengan menerapkan omnichannel sehingga pelanggan dapat menggunakan lebih dari satu channel penjualan seperti toko fisik, e-commerce, serta jual-beli via mobile.

Pengelola serta pemilik kios juga bisa bermitra dengan komunitas, sehingga mereka bisa langsung menjangkau pelanggan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X