Kisah Gedung Mabes Polri yang Disebut Bangunan dengan Struktur Kerangka Besi Pertama di Indonesia

Kompas.com - 01/07/2019, 13:05 WIB
Puluhan polisi berjaga di depan gedung Mabes Polri untuk mengamankan aksi demonstrasi oleh Laskar Pembela Islam di Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/1/2017).Ambaranie Nadia K.M Puluhan polisi berjaga di depan gedung Mabes Polri untuk mengamankan aksi demonstrasi oleh Laskar Pembela Islam di Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/1/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Tanggal 1 Juli setiap tahunnya diperingati Kepolisian Republik Indonesia sebagai Hari Bhayangkara.

Momen ini merupakan hari penting yang menandai titik balik bagi instansi kepolisian.

Hari Bhayangkara merupakan peristiwa yang menyatukan kepolisian, yang awalnya terpisah dengan kepolisian-kepolisian daerah.

Kemudian, pada 1 Juli 1946, lembaga ini menjadi satu kesatuan nasional dengan nama Kepolisian Negara dan bertangggung jawab langsung kepada presiden.

Lembaga ini kemudian menempati bekas Kantor Hoofd van de Dienst der Algemene Politie di Gedung Departemen Dalam Negeri.

Namun, Kepala Kepolisian Negara (KKN), R. S Soekanto Tjokrodiatmodjo, merencanakan penggunaan kantor sendiri di Jalan Trunojoyo 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Selanjutnya, dilakukan perencanaan pembangunan gedung baru. Mengutip situs Kepolisian Negara Republik Indonesia, pembangunan ini dilakukan atas inisiasi R.S Soekanto.

Pembangunan kantor ini pun terealisasi dan mendapat sebutan Markas Besar Djawatan Kepolisian Negara RI (DKN). Saat itu, gedung ini menjadi bangunan perkantoran termegah setelah Istana Negara.

Setelah pembangunan, gedung Mabes Polri akhirnya diresmikan oleh R. Soekanto pada tahun 1952. Hingga saat ini, bangunan itu masih digunakan sebagai Markas Besar Polri.

Pemberitaan Harian Kompas, 26 Agustus 1993, menyebutkan, gedung ini merupakan bangunan dengan struktur kerangka besi pertama di Indonesia. Namun, belum ada penjelasan lebih jauh soal ini.

Anggota polisi mengawal aksi unjuk rasa di depan gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2017). Mereka menuntut agar Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mencopot Kapolda Jawa Barat Irjen Anton Charliyan dari jabatannya karena dianggap membiarkan pecahnya kerusuhan antara FPI dan LSM GMBI di Bandung, Jawa Barat pada pekan lalu.KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Anggota polisi mengawal aksi unjuk rasa di depan gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2017). Mereka menuntut agar Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mencopot Kapolda Jawa Barat Irjen Anton Charliyan dari jabatannya karena dianggap membiarkan pecahnya kerusuhan antara FPI dan LSM GMBI di Bandung, Jawa Barat pada pekan lalu.
Pernah terbakar

Gedung Mabes Polri pernah terbakar pada 15 Januari 1996. Peristiwa ini membuat banyak dokumen negara yang tersimpan di gedung itu hangus.

Harian Kompas, 16 Januari 1996 menuliskan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran tersebut.

Dari gedung yang terbakar, terdengar beberapa kali suara ledakan peluru, yang diperkirakan berasal dari beberapa peluru yang disimpan di lemari beberapa ruangan yang terbakar.

Ruang di seluruh lantai 3, yakni ruang Asrena (Asisten perencanaan dan anggaran) Kapolri, ruang Puskodalops, ruang anggaran dan aula, habis terbakar.

Demikian pula lantai dua yang terdiri dari ruangan Asrena, ruangan Kapolri, serta ruangan Deops Kapolri. Sedangkan ruang di lantai satu yang habis terbakar adalah ruang Asrena, ruang Binmas serta aula lobi utama yang bernama "Aula Raden Sukanto".

Setelah peristiwa ini, perbaikan Gedung Mabes Polri dilakukan dalam kurun waktu beberapa tahun.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X