"Nabung DP", Program Khusus Anak Milenial Beli Apartemen

Kompas.com - 18/06/2019, 14:24 WIB
The Parc adalah hunian vertikal seluas 1,5 hektar dalam 5,5 hektar di kawasan superblock SouthCity. Dok SouthCityThe Parc adalah hunian vertikal seluas 1,5 hektar dalam 5,5 hektar di kawasan superblock SouthCity.
Editor Latief

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Setiawan Dwi Tunggal, pengembang apartemen The Parc, menawarkan program khusus untuk anak-anak muda atau kalangan milenial memiliki hunian sendiri. Ini adalah program Nabung DP atau mengumpulkan uang muka yang memungkinkan anak milenial membayar uang muka selama periode 2-3 tahun.

Hal tersebut dikatakan Direktur SouthCity, Peony Tang, dalam paparan program khusus untuk milenial tersebut, Selasa (18/6/2019). Lewat program ini, menurut Peony, milenial hanya perlu mencicil uang muka 20 persen atau sekitar Rp 3,3 jutaan hingga 24 kali.

"Setelah itu dilanjutkan dengan mencicil KPA sebesar Rp 3 juta per bulan. Ini artinya, dalam satu hari itu calon konsumen atau anak-anak milenial ini cuma perlu menyisakan Rp 99,000 per hari," lanjut Peony.

Peony mengatakan, memang ada beberapa kendala dihadapi generasi muda ini untuk memiliki hunian. Beberapa di antaranya adalah daya beli hunian yang terbilang rendah dan pendapatannya relatif belum mencukupi.

"Sebetulnya, kendala itu juga terkait gaya hidup mereka sendiri yang lebih mengutamakan pengalaman hidup dibandingkan masa depan, padahal paradigma itu bisa dibalik, yaitu mendahulukan masa depan baru kemudian pengalaman," ujar Peony.

Dengan tawaran program khusus itulah, lanjut dia, harapan anak milenial bisa punya rumah di usia muda bisa terwujud, apalagi beberapa pengembang, bahkan bank-bank penyedia KPR makin gencar memberikan program khusus bagi anak milenial yang serius ingin punya rumah.

Data Bank Indonesia menyebutkan bahwa di 2018 lalu ada peningkatan jumlah debitur usia 26 hingga 35 tahun yang mendominasi pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pertumbuhan debitur usia 26 hingga 35 tahun itu terjadi di pangsa rumah tapak tipe 22 hingga 70 meter persegi, rumah susun tipe 22 hingga 70 meter persegi, serta rumah susun tipe 21 ke bawah.

Peony merinci, pangsa usia 26 hingga 35 tahun untuk rumah tapak tipe 22-70 meter persegi terus meningkat dari 2014 sampai 2018. Adapun jumlah persentase debitur rumah tipe 22-70 meter persegi untuk usia 26 hingga 35 tahun berada pada kisaran 35 hingga 50 persen dari total debitur KPR.

Adapun untuk rumah susun atau flat tipe 22-70 meter persegi, debitur usia 26 hingga 35 tahun mulai mendominasi pasar. Dari keseluruhan debitur, persentase debitur usia tersebut  berjumlah 35 persen.

"Artinya, kalau dari data itu bisa digambarkan bahwa pasar potensial bagi industri properti adalah anak milenial. Sayangnya, enggak semua anak milenial punya kesempatan mengajukan KPR untuk beli rumah pertamanya," kata Peony.

Bisa dikatakan, lanjut Peony, kelompok debitur pada kisaran usia 26-35 tahun hanya mewakili 40 persen dari total jumlah milenial di Indonesia. Ini berarti bahwa ada 60 persen kalangan milenial masih belum memiliki akses pinjaman perumahan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X