Dua Penghargaan Bergengsi Dunia untuk Arsitektur Negara Muslim

Kompas.com - 09/05/2019, 22:00 WIB
Ilustrasi gedungDok. Schneider Electric Ilustrasi gedung

KOMPAS.com - Berbagai macam penghargaan arsitektur digelar, mulai dari tingkat dunia hingga kawasan.

Ragam kategori pun ditandingkan guna mencari karya dan arsitek yang dinilai mumpuni.

Di antara bermacam penghargaan, ada dua yang khusus menilai karya dari negara-negara dengan penduduk muslim besar.

Baca juga: Dua Karya Arsitektur Indonesia Masuk Nominasi Aga Khan Award 2019

Berikut penghargaan tersebut:

Aga Khan Award for Architecture

Aga Khan Award for Architecture merupakan penghargaan arsitektur bergengsi yang diinisiasi oleh Aga Khan IV pada tahun 1977.

Penyelenggaraannya sendiri dilakukan setiap tiga tahun sekali. Sejak saat itu, penghargaan arsitektur ini memberikan hadiah kepada 105 karya arsitektur dan melakukan dokumentasi pada lebih dari 8.000 karya di seluruh dunia.

Munculnya penghargaan arsitektur ini dilatarbelakangi tradisi arsitektural masyarakat Muslim pernah gemilang namun saat ini memudar.

Sebut saja Alhambra di Granada, Taj Mahal di Agra, Kubah Batu di Yerusalem , Masjid Sulemaniye di Istanbul, Masjid Al Azhar di Kairo, hingga alun-alun Naqsh-e Jahan di Isfahan.

AM Residence karya Andra MatinAga Khan Award AM Residence karya Andra Matin
Ajang penghargaan ini muncul dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan menghargai konsep arsitektur yang berhasil mengatasi kebutuhan dan aspirasi masyarakat Islam di berbagai bidang desain.

Penghargaan ini menyasar negara-negara di mana komunitas Muslim memiliki kehadiran yang signifikan.

Beberapa bidang yang menjadi perhatian antara lain desain kontemporer, perumahan sosial, komunitas pengembangan dan peningkatan, restorasi, penggunaan kembali dan konservasi kawasan, serta desain lanskap dan perbaikan lingkungan.

Pada penyelenggaraan tahun ini, dua karya arsitektur asal Indonesia masuk menjadi nominasi di antaranya Taman Bima Microlibrary karya SHAU Architects dan AM Residence rancangan arsitek Andra Matin.

Abdullatif Al Fozan Award

Ajang penghargaan Abdullatif Al Fozan Award menilai desain arsitektur masjid di negara-negara dengan populasi muslim besar.

Ajang apresiasi ini pertama kali diselenggarakan pada 2011. Sejak saat itu, Abdullatif Al Fozan Award telah berlangsung sebanyak tiga kali.

Baca juga: Mengintip 4 Masjid Indonesia Finalis Abdullatif Al Fozan Award

Penghargaan pertama diberikan khusus bagi desain masjid di Arab Saudi yang dibangun mulai tahun 1970.

Tiga tahun kemudian, penghargaan ini mulai mencakup desain masjid yang tersebar di negara-negara Teluk.

Sementara pada ajang ketiga tahun ini, cakupan peserta ditambah dengan memberikan kesempatan bagi negara-negara lain dengan penduduk muslim.

Masjid Al Safar yang berada di Rest Area KM 88 B Tol PurbaleunyiCoorporate Communication PT Jasa Marga (Persero) Tbk Masjid Al Safar yang berada di Rest Area KM 88 B Tol Purbaleunyi
Diharapkan pada penghargaan keempat yang rencananya akan diselenggarakan pada 2020 nanti dapat mengakomodasi karya arsitektur masjid di seluruh dunia.

Baca juga: 4 Desain Masjid Indonesia Masuk Nominasi Abdullatif Al Fozan Award

Pada tahun ini, karya arsitektur Indonesia juga masuk sebagai finalis, seperti Masjid Al Irsyad di Kota Batu Parahyangan dan Masjid Al Safar di rest area ruas Jalan Tol Purbaleunyi KM 88 rancangan firma Urbane Indonesia.

Ada pula Masjid Raya Sumatera Barat di Padang yang merupakan kolaborasi antara Urbane Indonesia dengan arsitek Rizal Muslimin.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X