Pengembangan dan Penataan Tanjung Selor Sebaiknya Disayembarakan

Kompas.com - 02/04/2019, 19:44 WIB
Salah satu sudut jalan di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Sabtu (27/4/2013) KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYASalah satu sudut jalan di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Sabtu (27/4/2013)

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah gencar membangun Tanjung Selor, ibu kota Provinsi Kalimantan Utara, sejak ditetapkan sebagai kota baru pada 2015.

Keseriusan pemerintah ditandai dengan pembuatan masterplan dan development plan  infrastruktur oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW).

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ahmad Djuhara menyambut baik rencana pengembangan kota baru tersebut asalkan dibuat secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak.

“Kota seperti Tanjung Selor itu harusnya lebih banyak lagi. Urbanisasi itu baik kalau direncanakan dan perlu sustainability. Itu butuh paradigma manusia,” ujar Djuhara ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (2/4/2019).

Baca juga: Rp 168,32 Miliar untuk Infrastruktur Tanjung Selor 2019

Menurut dia, paradigma yang dimaksud yaitu pemikiran dari arsitek bangunan dan arsitek perkotaan sebagai profesional yang berkompetensi di bidangnya.

Mereka bisa diajak bekerja sama karena memiliki kemampuan untuk mendesain bangunan dan kawasan sesuai fungsinya.

Salah satu cara untuk melibatkan arsitek yaitu dengan menggelar sayembara untuk merancang proyek bangunan, sekaligus kawasan.

Hal ini terutama untuk memicu para arsitek menghasilkan desain terbaik, sehingga kawasan kota baru mandiri pun dapat dibangun sesuai kaidah dan prinsip arsitektur berkelanjutan.

Selain itu, menurut Djuhara, sudah sewajarnya pemerintah menyelenggarakan ajang seperti itu sesuai perannya sebagai pembina konstruksi yang harus mendorong kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengembangkan kompetensi arsitek.

“Arsitek akan terbiasa bertarung. Pemerintah juga harus paham perannya sebagai pembina dengan mendorong melalui sayembara,” imbuhnya.

Sebagai contoh, pembangunan sejumlah pasar, sarana olahraga, dan fasilitas umum lain yang telah dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi Djuhara, cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi di suatu daerah juga dipengaruhi oleh arsitektur bangunannya karena memberi daya tarik bagi banyak orang untuk beraktivitas di wilayah tersebut.

“Mana yang ekonominya tumbuh cepat, salah satunya dari arsitektur bangunan dan fungsinya. Arsitek siap ikut, tetapi harus paham infrastruktur juga,” ucapnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X