Soal Tarif Baru, BUJT Masih Menghitung Pola Lalu Lintas Tol Trans-Jawa

Kompas.com - 31/03/2019, 15:00 WIB
Gerbang Tol Palimanan di Jalan Tol Cikopo-Palimanan atau Cipali. Dokumentasi PT Lintas Marga SedayaGerbang Tol Palimanan di Jalan Tol Cikopo-Palimanan atau Cipali.

JAKARTA, KOMPAS.com - Diskon tarif yang berlaku di ruas Tol Trans-Jawa dipastikan diperpanjang.

Hal ini dimungkinkan karena belum ada kesepakatan tarif baru yang diambil antara pemerintah dengan badan usaha jalan tol (BUJT).

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, paling cepat penerapan tarif baru diputuskan setelah Pilpres 2019 digelar.

"Setelah mereka sepakati, paling setelah pemilu-lah. Sekarang biarkan saja dulu," kata Basuki di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Adanya perbedaan tarif yang berlaku di sepanjang Tol Trans-Jawa, menjadi salah satu faktor sulitnya penerapan tarif baru.

Misalnya, tarif yang berlaku di ruas Tol Jakarta-Cikampek sebesar Rp 200 per kilometer. Sementara di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) mencapai Rp 1.000 per kilometer.

Hal lain yang juga menjadi pertimbangan yaitu memastikan internal rate of return (IRR) dapat terjaga agar pendapatan BUJT tidak terlalu turun.

"Kalau nanti sudah disepakati butuh subsidi atau butuh dukungan apa dari pemerintah juga akan dibicarakan," kata Basuki.

Baca juga: Dua Ruas Tol Trans-Jawa Siap Dibuka Fungsional Saat Lebaran

Sekretaris Jenderal Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) Krist Ade Sudiyono mengungkapkan, saat ini seluruh operator jalan tol masih mengumpulkan data terkait pola trafik atau lalu lintas pengguna jalan di Tol Trans-Jawa.

Data yang dikumpulkan sekaligus untuk menganalisa dampak pemberlakuan diskon tarif terhadap trafik yang terjadi.

"Saya mohon maaf belum mendapatkan data detailnya. Namun demikian secara umum, animo masyarakat untuk mencari dan mendapatkan experience menggunakam Jalan Tol Trans-Jawa adalah terbukti cukup tinggi," ungkap Krist dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com.

Penghitungan pola trafik sangat penting guna mengetahui tingkat sensitivitas pasar terhadap tarif suatu produk.

Menurut dia, semakin harga tidak sensitif, maka berapa pun tarif dan diskon yang diberikan tidak akan meningkatkan atau pun menurunkan trafi yang ada.

"Sebaliknya, kalau sangat price sensitive, tentu besaran tarif adalah kontributor utama yang menentukan jumlah trafik di jalan tol," tuntas Krist.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X