Kompas.com - 30/03/2019, 06:00 WIB
Suasana Ruas Tol Bawen-Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (16/6/2017). Ruas tol ini akan dibuka secara fungsional pada H-7 hingga H+7 Lebaran. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana Ruas Tol Bawen-Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (16/6/2017). Ruas tol ini akan dibuka secara fungsional pada H-7 hingga H+7 Lebaran.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera mengajukan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) proyek Jalan Tol Bawen-Yogyakarta dan Solo-Yogyakarta.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto mengungkapkan hal itu ketika menemui Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Rabu (27/3/2019).

“Kami akan ajukan PPJT lebih dulu, bila disetujui maka akan lanjut ke DPPT (Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah) dan penetapan lokasi (penlok)," ucap Sugiyartanto, pada laman resmi Pemerintah Provinsi DIY, Rabu (27/3/2019).

Setelah itu, Pemprov DIY akan menerbitkan penentuan lokasi (penlok), dan melakukan proses pembebasan lahan. Cepat atau lambatnya pembebasan lahan akan memengaruhi proses pengerjaan tol tersebut.

Baca juga: Tol Trans-Sumatera Dibangun untuk Genjot Perekonomian

“Jika lahan makin cepat, maka konstruksi nantinya juga semakin cepat. Kuncinya di situ. Pokoknya kita lakukan yang terbaik tak hanya untuk pusat, tapi juga daerah,” 
kata Sugiyartanto.

Jalan tol yang menghubungkan wilayah DIY dan Jawa Tengah itu ditargetkan selesai dibangun paling lambat tahun 2022.

Ditjen Bina Marga berencana membangun jaringan jalan tol ini sampai ke Cilacap.

Meski demikian, konstruksinya harus dilakukan secara bersamaan, berbeda dari pembangunan jalan tol yang bisa dilakukan secara bertahap.

“Kalau jaringan jalan tidak bisa putus-putus, jaringan itu satu, dalam satu pemikiran. Baru pengerjaannya dilakukan secara bertahap, sesuai kebutuhan dan materiil yang ada di lapangan,” tutur Sugiyartanto.

Dia menjelaskan alasan pembangunan Tol Bawen-Yogyakarta dan Solo-Yogyakarta, karena selama ini jumlah kendaraan yang melintasi jalan nasional yang menghubungkan wilayah antarkota dan antarprovinsi tersebut sudah semakin banyak sehingga kondisi lalu lintas jalan pun bertambah padat.

Hal itu berakibat timbulnya antrean panjang kendaraan yang akan memasuki Yogyakarta.

“Pembangunan tol ini diinisiasi karena volume lalu lintas di Yogya sudah cukup padat. Semoga nantinya ini juga dapat menjadi nilai tambah untuk DIY,” ungkap Sugiyartanto.  

Keberadaan tol tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan potensi perekonomian daerah setempat.

Sebelumnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta agar dibangun juga akses jalan yang masuk ke wilayah Yogyakarta.

"DIY kan sudah dikenal luas sebagai kota wisata dan kota pendidikan yang saling bersinggungan. Sebut saja Borobudur, Prambanan, Imogiri, dan segala potensi pantai. Semua itu akan coba kita gabungkan aksesnya,” papar Sugiyartanto.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X