Sebulan Lagi, Bandara Jewel Changi Punya Air Terjun Tertinggi di Dunia

Kompas.com - 15/03/2019, 06:00 WIB
Air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia bernama Rain Vortex di Bandara Jewel Changi, Singapura.Dezeen.com Air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia bernama Rain Vortex di Bandara Jewel Changi, Singapura.

KOMPAS.com – Bandara Jewel Changi, Singapura, segera membuka fasilitas air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia yang diberi nama Rain Vortex. Ketinggiannya mencapai 40 meter dan dijadwalkan akan dibuka pada 17 April 2019.

Air terjun itu dirancang oleh arsitek Moshe Safdie dari biro Safdie Architects. Air terjun berasal dari sebuah lubang berbentuk lingkaran yang berada di tengah atap berkubah kaca.

Kubah beratap kaca yang terbuat dari kerangka baja berbentuk roti bagel itu merupakan hasil rekayasa teknik dari Buro Happold. Panjang bentangan terlebarnya mencapai lebih dari 200 meter.

Sementara hutan dalam ruangan itu diciptakan oleh Peter Walker dan Partners Landscape Architects.

Salah satu alasan dibuatnya Rain Vortex karena selamaini Singapura diketahui sering mengalami hujan badai.

Air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia bernama Rain Vortex di Bandara Jewel Changi, Singapura.Dezeen.com Air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia bernama Rain Vortex di Bandara Jewel Changi, Singapura.
Dengan adanya air terjun itu, diharapkan air hujan bisa disalurkan dengan kecepatan 37,85 meter kubik per menit.

Aliran air ini secara alami akan mendinginkan udara di bawah kubah itu, kemudian ditampung dan digunakan kembali untuk kebutuhan air di dalam bangunan tersebut.

Safdie Architects mulai mengerjakan proyek di Bandara Jewel Changi itu sejak tahun 2014.

Beberapa proyek lain serupa ini yang pernah dikerjakan yaitu Habitat 67 di Montreal, Kanada, dan Marina Bay Sands di Singapura.

"Untuk kondisi seperti di Jewel, karena berada di kota dengan iklim sedang, saya mengimpikan bisa membukanya ke udara dan alam terbuka ketika cuaca cerah," ujar Safdie kepada Dezeen, Rabu (12/3/2019).

Dia juga meminta kepada para arsitek agar mengantisipasi perubahan iklim dengan membuat rancangan yang dapat merespons kondisi cuaca dan suhu yang ekstrem.

Penggunaan teknologi di kubah beratap itu memungkinkannya bisa dibuka dan ditutup sesuai kondisi cuaca.

Namun, meski saat ini belum tersedia pendingin ruangan di sana, Jewel tetap memiliki daya tarik bagi banyak pengunjung.

Halaman:



Close Ads X