Pemerintah Dorong Daya Saing Industri Keramik Nasional

Kompas.com - 14/03/2019, 22:00 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Pameran Keramika 2019 dan Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Industri Keramik Nasional di Jakarta, Kamis (14/3).
Dok. Kementarian PerindustrianMenteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Pameran Keramika 2019 dan Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Industri Keramik Nasional di Jakarta, Kamis (14/3).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan industri keramik merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya dan terus memacu daya saingnya.

Terlebih, industri ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang besar. Pertumbuhannya saja pada 2018 mencapai 2,75 persen dan mampu menyerap lebih dari 150.000 tenaga kerja.

Untuk itu ada empat poin yang dilakukan guna mencapai sasaran tersebut. Poin pertama ialah ketersediaan gas industri dengan harga yang kompetitif.

Baca juga: Digempur China, Industri Keramik Nasional Terpukul

Kemudian inovasi, sumber daya manusia yang kompeten, dan pengembangan industri dalam negeri.

Menteri Perindustrian Airlangga HartartoDok. Kementarian Perindustrian Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing industri keramik dan memproteksi pasar dalam negeri, pemerintah telah menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) impor komoditas keramik menjadi 7,5 persen.

Selain itu, pemerintah juga mengupayakan adanya jaminan pasokan dan harga ideal yang kompetitif.

Selanjutnya, pemerintah akan memfasilitasi melalui pemberian insentif fiskal berupa super deductible tax.

"Selain insentif fiskal, Kementerian Perindustrian juga menyediakan insentif nonfiskal berupa penyediaan tenaga kerja kompeten melalui program link and match dengan SMK dan industri, Diklat sistem 3 in 1 dan Program Diploma I Industri," ucap Airlangga dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (14/3/2019).

Airlangga mengungkapkan pada era digitalisasi saat ini, beberapa industri keramik nasional sudah menerapkan teknologi terbaru, seperti digital printing dan digital glazing yang mampu memproduksi keramik dengan ukuran besar.

"Kami juga mendorong diversifikasi produk dengan memproduksi jenis ubin terkini seperti ubin 3D (tiga dimensi), porcelain slab, dan ubin vitrifikasi, serta inovasi desain ubin keramik yang mengikuti tren terkini yang memiliki ciri khas dan original," tutur Airlangga.

Menteri Perindustrian Airlangga HartartoDok. Kementarian Perindustrian Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
Untuk itu, lanjut dia, perlu adanya dorongan pemanfaatan teknologi 3D printing, otomatisasi, artificial intelligence, dan big data.

Lebih lanjut, pihaknya juga akan mengamankan pasokan bahan baku industri keramik yang berasal dari dalam negeri seperti tanah liat (clay), feldspar, pasir silika, dolomite, dan limestone.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menargetkan produksi keramik nasional akan mencapai 420-430 juta meter persegi sepanjang tahun 2019.

"Angka ini tumbuh sebesar 7-9 persen dibanding jumlah produksi pada tahun 2018," pungkas Edy.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X