Mengenal Program “Sombere Smart City” di Makassar

Kompas.com - 12/03/2019, 21:30 WIB
Pemandangan Pantai Losari dari rooftop Pod House Losari Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (19/6/2016). KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANAPemandangan Pantai Losari dari rooftop Pod House Losari Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (19/6/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com – Memasuki era revolusi industri 4.0, pemanfaatan teknologi berbasis internet diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Tidak mau ketinggalan, Pemerintah Kota Makassar juga telah memanfaatkan teknologi itu melalui program "Sombere Smart City".

Namun, pelaksanaannya dengan cara yang lebih manusiawi supaya warga Makassar bisa lebih mengerti program tersebut.

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengatakan, pihaknya sudah menerapkan konsep internet of things, artificial inteligence, dan big data di Makassar dengan tetap memperhatikan budaya lokal.

“Kami istilahkan Sombere Smart City. Kami tidak meninggalkan budaya lokal. Secanggih apa pun robot, tapi tidak mempunyai hati, konsep inlah yang dicoba disusun dengan sistem smart city yang berbeda dari yang lain,” ujar Pomanto dalam diskusi tentang industri 4.0 di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Baca juga: IDC Buka Pendaftaran Smart City Asia Pasifik 2019

Dia menjelaskan, sombere berasal dari bahasa Makassar, yang artinya keramahan, kebaikan, dan persaudaraan. Hal itulah yang ingin dihubungkan dengan penerapan teknologi internet tadi.

Pomanto mengaku percaya bahwa secanggih apa pun teknologi, orang akan tetap membutuhkan sentuhan manusia. Konsep inilah yang coba diterapkan dalam Sombere Smart City.

“Bagaimana mengoneksikan heart and mind setiap orang. Smart city itu tentang hardware dan software. Menghadapi industri 4.0 ini, kami siapkan konsep yang high touch with high tech,” imbuhnya. 

Salah satu wujud program itu yakni pelayanan kesehatan masyarakat. Pemkot Makassar menyiapkan layanan kesehatan menggunakan teknologi, tetapi tetap ada sentuhan manusia, misalnya layanan Home Care.

Ini merupakan fasilitas kesehatan berupa mobil seperti ambulans yang dioperasikan 24 jam dan bisa bergerak ke mana saja.

Nantinya dokter akan mendatangi rumah warga untuk melakukan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan, misalnya USG dan EKG.

“Layanan ini sudah empat tahun. Orang menelepon, dokter akan ke rumah. Saat datang misalnya ternyata ada gejala jantung. Tim dokter akan melayani 15 menit setelah ditelepon, sudah ada telemedicine, tele-EKG, dan tele-USG. Ini yang namanya high touch, jadi dokter tetap ada, tapi lebih high tech,” jelas Pomanto.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X