Jelang Piala Dunia 2022, Proyek Properti Banjiri Qatar

Kompas.com - 19/02/2019, 20:48 WIB
Doha, Qatar.Shutterstock Doha, Qatar.

KOMPAS.com - Jelang perhelatan Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar, para pengamat pasar memperkirakan negara ini akan dibanjiri dengan proyek-proyek perumahan dan komersial, meski permintaan dari investor luar negeri dan penduduk lokal berkurang.

Namun sejak terjadinya boikot diplomatik, perdagangan, dan transportasi dari negara-negara di Teluk Arab, membuat Qatar sulit untuk memikat pembeli asing baik di sektor residensial dan perkantoran.

Imbasnya, harga hunian turun sekitar 10 persen sejak awal blokade yang dilakukan pada Juni 2017. Sementara harga sewa perkantoran turun sebesar 20 persen.

"Sektor properti Qatar telah menjadi korban utama dari blokade yang diberlakukan sejak pertengahan 2017," ujar ekonom dari Capital Economics, Jason Tuvey, seperti dilansir dari Reuters.

Posisi ini telah membuat para investor asing menunda untuk menanamkan modal. Tetapi dengan semakin dekatnya Piala Dunia, para ahli mengatakan, proyek-proyek yang sudah lama direncanakan akan membanjiri pasar.

Negara ini berencana untuk menambah ruang residensial sebesar 50 persen dan perkantoran 40 persen dalam tiga tahun ke depan.

Sebagian besar dari proyek-proyek tersebut berada di kota baru, Lusail, yang diprediksi dapat menampung hingga 200.000 penduduk dan 170.000 pekerja.

Kota ini juga memiliki stadion yang akan digunakan untuk perhelatan piala dunia.

Rendering Stadion Ras Abu Aboud di Qatar.Designboom Rendering Stadion Ras Abu Aboud di Qatar.
Ditambah, FIFA menghendaki Qatar untuk memiliki setidaknya 60.000 kamar hotel untuk mengantisipasi banyaknya orang yang datang untuk menyaksikan perhelatan turnamen piala dunia tersebut.

Laporan DTZ menyebutkan, hingga saat ini, negara kaya minyak tersebut telah memiliki 26.500 kamar hotel dan akan menambah sejumlah 15.000 kamar lagi hingga 2022 mendatang.

Sisa kamar tersebut akan dibangun di atas kapal-kapal pesiar dan tenda di area gurun. Tenda-tenda ini rencananya akan dibangun dengan gaya bedouin untuk memberikan pengalaman tinggal di gurun bagi pengunjung.

"Ada kelebihan pasokan di sektor perkantoran dan selama perhelatan Piala Dunia FIFA 2020 dapat membantu menyerap ketersediaan ruang, industri baru juga dibutuhkan untuk mengisi kekosongan ruang tersebut dalam jangka menengah dan panjang," ujar Country Director Coliers Qatar, Adrian Camps.

DTZ juga mengungkapkan ruang ritel naik dua kali lipat dalam tiga tahun dan akan tumbuh sebesar 50 persen hingga 2021 dengan pengembangan 9 mal baru.

Namun setelah 2022, sektor properti Qatar menghadapi masa depan yang tidak pasti. Selain keberadaan stadion sepak bola, negara ini juga belum menentukan rencana mengembangkan infrastruktur yang dibangun untuk ajang tersebut.



Close Ads X