Pemerintah-ATI Kaji Kemungkinan Penurunan Tarif Tol Trans-Jawa - Kompas.com

Pemerintah-ATI Kaji Kemungkinan Penurunan Tarif Tol Trans-Jawa

Kompas.com - 12/02/2019, 17:30 WIB
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, dalam Malam Orasi Penerima Anugerah Hamengku Buwono IX dalam rangka Dies Natalis ke-69 UGM (19/12/2018). Dok. UGM Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, dalam Malam Orasi Penerima Anugerah Hamengku Buwono IX dalam rangka Dies Natalis ke-69 UGM (19/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah dan badan usaha jalan tol (BUJT) kini tengah mengkaji kemungkinan tarif Tol Trans-Jawa turun. Hal ini menyusul keluhan pengusaha truk yang menganggap tarif tol terlalu mahal.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pihaknya telah menerima masukan dari BUJT, dan menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi tarif yang berlaku.

"Seperti saya sampaikan, sebetulnya ini tidak semata-mata soal tarif. Ada beberapa hal tadi, misalnya, disampaikan kalau diturunkan nanti pedagang di Pantura juga pada protes," kata Basuki di kantornya, Selasa (12/2/2019).

Dengan tarif yang berlaku saat ini, banyak pengendara yang masih menggunakan Jalur Pantura untuk mengakses sejumlah wilayah di Jawa Barat hingga Jawa Timur.

Hal ini dinilai mampu menggeliatkan usaha para pedagang di Pantura yang sebelumnya khawatir kehadiran Tol Trans-Jawa akan mematikan usaha mereka.

Baca juga: Basuki Bantah Tarif Tol Indonesia Termahal se-Asia Tenggara

"(Pedagang) minta jangan diturunkan. Katanya kalau diturunkan mereka (pengguna jalan) pindah ke tol, warung sepi," imbuh Basuki.

Kondisi tersebut ditambah dengan perilaku pengemudi angkutan logistik yang kerap membawa muatan berlebih atau over dimension over load (ODOL).

Akibatnya, mereka tidak mampu mencapai kecepatan minimum yang diatur untuk jalan tol antar kota antar provinsi.

"Mereka tidak bisa lari lebih dari 40 kilometer per jam, mereka masuk tol pun dia menjadi lambat sehingga tidak perlu cepat, nah kalo tidak perlu cepat mereka lewat jalur Pantura," kata dia.

Selain itu, adanya shifting penggunaan moda transportasi ke kereta api atau kapal. Hal ini dinilai cukup menguntungkan karena dapat membuat kondisi jalan lebih awet.

Baca juga: Bola Panas Tarif Tol Trans-Jawa di Tangan Asosiasi

Dari aspek biaya, Basuki menambahkan, yang paling banyak mengeluhkan mahalnya tarif tol adalah para pengemudi kendaraan logistik. Perusahaan selama ini telah memberikan ongkos dengan jumlah yang sama.

Padahal di sisi lain, sudah ada klasterisasi golongan kendaraan dari lima golongan menjadi tiga golongan.

"Yang sebetulnya bersuara itu para driver-nya. Karena kalau biaya yang diberikan oleh pengusahanya sudah ada biaya cost di tol," imbuh Basuki.

"Dikasih tiga hari, misalnya, sedangkan di tol itu satu hari sudah sampai. Itu banyak sekali hal-hal yang memengaruhi perilaku," sambung dia.

Dengan berbagai faktor tersebut, Basuki mengatakan, saat ini Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) masih merumuskan kemungkinan untuk penurunan tarif Tol Trans-Jawa.

"Kalau memang bisa memenuhi aspriasi itu dengan catatan-catatan itu berapa kira-kira yang bisa diturunkan," tuntasnya.



Close Ads X