Sejak Bertarif, Jumlah Pengguna Tol Trans-Jawa Turun

Kompas.com - 12/02/2019, 10:00 WIB
Gerbang Tol Mojokerto di Tol Kertosono-Mojokerto , Jawa Timur, Minggu (18/6/2017). Tol Kertosono-Mojokerto termasuk dalam jaringan Tol Trans-Jawa dan Jalan tol ini dirancang sepanjang 40,5 kilometer.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Gerbang Tol Mojokerto di Tol Kertosono-Mojokerto , Jawa Timur, Minggu (18/6/2017). Tol Kertosono-Mojokerto termasuk dalam jaringan Tol Trans-Jawa dan Jalan tol ini dirancang sepanjang 40,5 kilometer.

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah sebulan dibuka gratis, tujuh ruas Tol Trans-Jawa yang baru diresmikan pada 20 Desember 2018 akhirnya dioperasikan bertarif.

Namun, pengenaan tarif ini membuat jumlah kendaraan yang melintasi jalan bebas hambatan tersebut menurun.

Direktur Operasi II PT Jasa Marga (Persero) Tbk Subakti Syukur mengatakan, penurunan terjadi tak hanya di jumlah kendaraan golongan I atau kendaraan pribadi, tapi juga kendaraan logistik.

"Golongan I turun hampir sekitar 2 persen, kemudian non-golongan I turun 4,7 persen. Itu wajar karena tadinya gratis," kata Subakti di kantornya, Senin (11/2/2019).

Baca juga: Kado Valentine dari Jasa Marga, Tarif Tol Bandara Naik

Soal tarif yang dinilai terlalu mahal, menurut dia, tarif yang berlaku saat ini jauh lebih murah dibandingkan dengan tarif yang diusulkan, seperti tarif Tol Semarang-Batang.

"Berdasarkan investasinya, (usulan tarif) Rp 1.500 per kilometer. Kami tetapkan Rp 1.000 per kilometer. Itu golongan I, ya. Itu artinya pemakai jalan sudah diuntungkan," ungkapnya.

Penggunaan jalan bebas hambatan merupakan alternatif yang bisa ditempuh masyarakat bila jalur arteri dinilai kurang nyaman. Demikian halnya para pengemudi kendaraan pengangkut logistik.

Soal jumlah truk logistik yang menurun cukup besar, anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Koentjahjo Pamboedi menilai, para pengemudi truk tersebut juga memiliki dua pilihan yang saling menguntungkan.

Di satu sisi, ongkos yang dibekalkan ke mereka tidak mengalami kenaikan. Namun, mereka bisa diuntungkan dengan kecepatan yang diharapkan bila melewati jalur bebas hambatan itu.

Di sisi lain, dengan ongkos yang tetap, mereka juga bisa tetap nyaman lewat jalan arteri lantaran terjadi shifting kebiasaan masyarakat untuk menggunakan jalan tol.

"Artinya, kenyamanan di arteri itu ada," kata Koentjahjo.




Close Ads X