Basuki Evaluasi Tarif Tol Trans-Jawa yang Dianggap Mahal - Kompas.com

Basuki Evaluasi Tarif Tol Trans-Jawa yang Dianggap Mahal

Kompas.com - 11/02/2019, 15:14 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam pembukaan PUPR 4.0 Expo di Jakarta, Senin (11/2/2019).KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEA Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam pembukaan PUPR 4.0 Expo di Jakarta, Senin (11/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono akan mengumpulkan badan usaha jalan tol (BUJT) untuk membahas keluhan para pengusaha logistik tentang tarif Tol Trans-Jawa yang dianggap terlalu mahal.

“Ini kan banyak sekali BUJT-nya, ada Jasa Marga, Astra, Waskita, dan Sumber Mitra Jaya. Saya harus mengumpulkan dulu, kami akan diskusikan bersama,” ucap Basuki saat ditemui di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Namun, dia belum menentukan waktu pembahasan mengenai tarif tol tersebut. Sebab, jadwalnya mesti disesuaikan dengan BUJT terkait.

“Ini saya minta BUJT untku membuat jadwalnya,” imbuhnya.

Baca juga: Pamer Pencapaian, Kementerian PUPR 4.0 Expo Resmi Dibuka

Dia mengatakan, sebelumnya Kementerian PUPR melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah melakukan integrasi tarif tol, jika sebelumnya terdiri dari 5 golongan disederhanakan menjadi 3 golongan.

Rinciannya, golongan 1 tetap, golongan II dan III digabung menjadi golongan II, serta golongan IV dan V disatukan menjadi golongan 3.

“Sebetulnya kalau tol untuk angkutan logistik sudah turun banyak. Sekarang hanya dengan 3 golongan, yaitu golongan I, golongan II dan III jadi 1,5 kali, dan golongan IV dan V jadi 2 kali. Itu turunnya sudah banyak, tapi mungkin masih merasa keberatan,” ungkap Basuki.

Namun, dia juga mempertimbangkan faktor teknis lain yang dialami pengemudi truk di jalan tol sehingga memengaruhi ongkos perjalanan.

Baca juga: YLKI: Tarif Mahal Bikin Tol Trans-Jawa Sepi

Sebagai contoh, pengemudi truk harus mengganti ban yang rusak. Biaya penggantiannya berbeda jika dilakukan di bengkel yang ada di jalan arteri dibanding di jalan tol.

“Misalnya kalau di pantura mereka bisa mengganti ban di mana saja. Bisa ke warung dengan harga yang bisa Rp 10.000, tapi kalau di tol harus cari di rest area yang harganya jauh lebih mahal. Jadi tidak hanya semata-mata tarif tolnya menurut saya, itu juga harus kita perhatikan,” pungkasnya. 

Sebelumnya diberitakan, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Nofrisel mengatakan, penerapan tarif di sepanjang Tol Trans-Jawa berpengaruh signifikan terhadap struktur pengeluaran perusahaan truk.

Dibandingkan melalui jalur tol, para pengusaha truk pun lebih memilih untuk lewat jalur pantura.

"Jadi kita berharap bisa dipertimbangkan untuk tarif tol, di-adjust, ditinjau kembali. Sementara yang dilakukan teman-teman Aptrindo ya sebagian tidak lewat jalan tol. Mereka memilih jalur pantura biasa," ujar Nofrisel.

Para pengusaha pun mengeluhkan mahalnya tarif tersebut kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Pasalnya, pemerintah tengah berupaya meningkatkan kinerja logistik dalam negeri untuk mendorong ekspor.



Close Ads X