Progres LRT Jabodebek Tembus 60 Persen

Kompas.com - 01/02/2019, 22:30 WIB
Suasana pembangunan proyek transportasi masal Light Rail Transit (LRT) di sepanjang Tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, Minggu (23/7/2017). Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Budhi Harto mengungkapkan, nilai pembangunan prasarana LRT Jabodebek di kontrak awal sebesar Rp23,39 triliun sudah termasuk PPN 10 persen. Namun, setelah dihitung lagi, ongkos konstruksi LRT dapat ditekan lebih murah menjadi Rp 19,7 triliun dan belum termasuk PPN 10 persen dan sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/foc/17. ANTARA FOTO/Yulius Satria WijayaSuasana pembangunan proyek transportasi masal Light Rail Transit (LRT) di sepanjang Tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, Minggu (23/7/2017). Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Budhi Harto mengungkapkan, nilai pembangunan prasarana LRT Jabodebek di kontrak awal sebesar Rp23,39 triliun sudah termasuk PPN 10 persen. Namun, setelah dihitung lagi, ongkos konstruksi LRT dapat ditekan lebih murah menjadi Rp 19,7 triliun dan belum termasuk PPN 10 persen dan sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/foc/17.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Budi Harto mengklaim kemajuan pembangunan proyek light rail transit (LRT) sampai saat ini telah mencapai 60 persen.

Adapun anggaran yang telah diserap untuk proyek ini sekitar Rp 12 triliun, dari anggaran yang dialokasikan secara keseluruhan lebih kurang Rp 20 triliun.

"Untuk LRT sekarang sudah 60 persen. Dana yang sudah dikucurkan kira-kira Rp 12 triliun, semuanya sekitar Rp 20 triliun," ujar Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto di Jakarta, Jumat (1/2/2019).

Pembangunan LRT tersebut merupakan proyek infrastruktur yang menjadi fokus Adhi Karya untuk tahun 2019.

Baca juga: Adhi Karya Bidik Pertumbuhan Kontrak Baru 20 Persen

Selain itu, Adhi Karya juga berencana mengembangkan bisnis properti melalui pembelian lahan di sejumlah lokasi proyek transit oriented development (TOD) di wilayah Jabodetabek.

Rencana itu akan direalisasikan melalui kerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN) lain, terutama dalam pengadaan lahan.

"Kalau di properti kami akan belanja untuk lahan-lahan TOD. Luasnya sekitar 50 sampai 200 hektar di sekitar Jabodetabek. Kami kerja sama dengan BUMN lain untuk pengadaan lahannya," imbuh Budi.

Ada pun dana yang dianggarkan untuk proyek itu lebih kurang Rp 3 triliun yang diperoleh dari anggaran sendiri dan bantuan perbankan.

Budi memperkirakan penjualan di sektor properti tahun ini bisa mencapai Rp 4 triliun.

Terkait dengan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada hari ini yang memutuskan pembentukan holding infrastruktur di bawah kepemimpinan PT Hutama Karya (Persero) Tbk, Budi mengharapkan proses ini bisa membantu percepatan penyelesaian berbagai proyek yang dikerjakan Adhi Karya dan BUMN lain yang terlibat.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X