Kompas.com - 29/01/2019, 21:30 WIB
Heritage Terrace Houses adalah kompleks perumahan kuno peranakan Tionghoa yang dibangun sejak tahun 1920 di Koon Seng Road, Singapura, Selasa (6/2). Di sekitar lokasi ni, juga terdapat ruko-ruko peranakan yang terawat dengan baik dengan hiasan bungalow kolonial. DIAN DEWI PURNAMASARIHeritage Terrace Houses adalah kompleks perumahan kuno peranakan Tionghoa yang dibangun sejak tahun 1920 di Koon Seng Road, Singapura, Selasa (6/2). Di sekitar lokasi ni, juga terdapat ruko-ruko peranakan yang terawat dengan baik dengan hiasan bungalow kolonial.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bangunan rumah toko atau ruko merupakan elemen penting bagi pedagang Tionghoa.

Bangunan khas yang dulu dibangun di kawasan permukiman ini dianggap tepat untuk menjalankan aktivitas komersial sekaligus sebagai tempat tinggal. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Fungsi ganda ini membuat ruko dianggap efektif. Ini karena pemilik ruko dapat mengawasi langsung barang dagangannya sekaligus mengurangi biaya transportasi karena tidak perlu pindah dari rumah.

Dosen Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Adrian Perkasa, menuturkan, jenis arsitektur ini dibawa masyarakat Tionghoa dari China Selatan atau tepatnya dari Provinsi Fujian.

Baca juga: Permukiman Tionghoa Harus Membelakangi Bukit

Secara garis besar, bentuk ruko memiliki fungsi dan penggunaan ruangan yang hampir sama dengan rumah Tionghoa pada umumnya.

Namun menurut Adrian, ada beberapa hal yang membedakan fungsi ruko dengan rumah Tionghoa pada umumnya.

Kawasan ruko biasanya dibangun berderet dan berada tepat di tepi jalan. Deretan ruko bisa terkonsentrasi dalam satu kawasan dan membentuk blok, ataupun linier mengikuti suatu ruas jalan tertentu.

Karena berderet dan diapit dengan ruko tetangganya, jenis bangunan ini hanya memiliki satu fasad yakni pada bagian depan.

Adrian menyebutkan, konstruksi ruko di Indonesia hampir sama seperti di Malaka dan Georgetown.

Ruko biasanya dibangun di atas sebidang tanah dengan ukuran tertentu. Di beberapa tempat lantai pertama ruko dimundurkan sedangkan lantai kedua dibangun lebih lebar yang berfungsi sebagai peneduh.

"Denahnya biasanya berbentuk persegi panjang tapi tidak punya gerbang seperti pada rumah," ujar Adrian kepada Kompas.com, Selasa (29/1/2019).

Berbeda dengan ruko yang sering ditemui saat ini, pola ruang pada bangunan ruko pecinan awal masih memiliki ruang hunian di lantai dasar. Ruang tamu pada ruko juga berfungsi ganda sebagai toko atau workshop.

Di belakang toko atau tempat berdagang ini terdapat ruang tidur atau ruang istirahat. Namuan ruangan ini tidak menempel melainkan dirancang dengan sekat berupa lorong.

"Kalau dia punya altar, altar akan diletakkan di antara kamar tidur dan ruang tamu," tutur Adrian.

Setelah itu beberapa ruangan seperti ruang keluarga, ruang makan, kamar mandi hingga sumur berada di lantai satu. Adrian menyebutkan, di lantai dua pada pola ruang ruko awal ini hanya berisi kamar tidur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.