Kompas.com - 26/01/2019, 13:36 WIB
Salah satu aktivitas penambangan di sekitar Sungai Jeneberang dengan latar belakang sejumlah titik longsor di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sabtu (26/1/2019). KOMPAS.com/ABDUL HAQSalah satu aktivitas penambangan di sekitar Sungai Jeneberang dengan latar belakang sejumlah titik longsor di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sabtu (26/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com  - Direktorat Jenderal Tata Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), menyatakan tiga daerah di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melanggar tata ruang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penemuan itu diperoleh setelah audit yang dilakukan terhadap Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar.

“Kami melakukan audit di tiga kabupaten atau kota di Sulsel, yaitu Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar. Di kabupaten atau kota tersebut ditemukan ketidaksesuaian pemanfaatan ruang,” ujar Direktur Pembinaan Perencanaan Tata Ruang dan Pemanfaatan Ruang Daerah Kementerian ATR/BPN Reny Windyawati kepada Kompas.com, Sabtu (26/1/2019).

Dia mengatakan, ketidaksesuaian pemanfaatan ruang itu paling banyak ditemukan di kawasan sempadan, di antaranya sempadan sungai dan pantai.

Sempadan merupakan garis batas terluar yang diperbolehkan untuk mendirikan bangunan. Di luar dari garis sempadan ini, bangunan tidak diizinkan berdiri.

Baca juga: Gowa dan Maros, Calon Pusat Pertumbuhan Baru

Selain itu, ruang yang tidak sesuai peruntukan juga ditemukan di kawasan pertanian, hutan lindung, dan ruang terbuka hijau (RTH).

“Yang terbanyak adalah kawasan sempadan sungai, sempadan pantai, pertanian, hutan lindung, dan RTH,” ucap Reny.

Pihaknya menemukan kenyataan di lapangan, ternyata di berbagai kawasan itu digunakan untuk perumahan dan area komersial.

“Eksisting pemanfaatan ruang yang ditemui antara lain permukiman, hotel, pergudangan, dan industri,” imbuhnya.

Sehubungan dengan bencana banjir di wilayah Makassar, Gowa, dan kabupaten lain yang salah satunya diakibatkan meluapnya air di Bendungan Bili-Bili di Gowa, Kementerian ATR/BPN juga menemukan di kawasan sempadan bendungan itu terdapat area pertambangan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.