Kisah Muara, Denyut Kreatif Anak Muda Solo

Kompas.com - 21/01/2019, 19:00 WIB
Pertemuan demi pertemuan yang terjadi di Muara banyak menghasilkan ide-ide segar. Dok. House of Muara Pertemuan demi pertemuan yang terjadi di Muara banyak menghasilkan ide-ide segar.

SOLO, KOMPAS.com - Peristiwa terbakarnya Pasar Legi pada akhir Oktober 2018 lalu  tak hanya berdampak pada lenyapnya ladang rezeki para pedagang, juga Muara Market.

Muara Market atau lebih dikenal dengan nama Muara turut terkena imbasnya. Ruang kreatif anak muda ini kini terpaksa tutup dan menyisakan kios-kios kosong.

Awalnya, properti yang dibangun tepat di belakang pasar tersebut terbengkalai selama delapan tahun. Di sini, puluhan ruko dibangun mengelilingi sebuah lapangan berbentuk segi lima.

Kemudian datanglah Andy Susanto yang punya ide untuk memanfaatkan properti ini. Bersama dengan Resi Cetho, dan Tatuk Marbudi, mereka kemudian mencoba memanfaatkan properti seluas hampir 3.000 meter persegi ini.

Baca juga: Hanya Butuh 4 Tahun, Pemuda Ini Jadi Miliarder Properti

Kondisi awal Muara setelah terbengkalai selama delapan tahun.Dok. House of Muara Kondisi awal Muara setelah terbengkalai selama delapan tahun.
Tatuk berkisah, pada awalnya, bangunan ruko yang berada di Jalan Lumbang Tobing tersebut dibangun untuk mengakomodasi limpahan pedagang dari Pasar Legi.

Tetapi karena berbagai hal, ruko tersebut gagal dalam pemasaran dan membuatnya menjadi gedung yang tak terawat.

Baca juga: Empat Taipan Properti Masuk Daftar 50 Orang Terkaya Indonesia

Tatuk bersama rekan-rekannya kemudian mencari cara untuk memasarkan tempat ini. Ide utamanya adalah bagaimana menghidupkan dan memanfaatkan kembali bangunan tersebut.

Dengan berbagai koneksi dan ide yang dimiliki akhirnya lahirlah Muara pada 2016. Dari segi bisnis, Muara kemudian memanfaatkan 33 kios yang tersedia untuk disewakan.

Bangunan ruko yang berada di Jalan Lumbang Tobing tersebut dibangun untuk mengakomodasi limpahan pedagang dari Pasar Legi. Dok. House of Muara Bangunan ruko yang berada di Jalan Lumbang Tobing tersebut dibangun untuk mengakomodasi limpahan pedagang dari Pasar Legi.
"Penawaran kami ke yang punya tempat, yang penting propertinya laku. Sharing-nya dari penyewaan kios, dengan persentase 50 persen buat owner, 50 persen buat kami," ujar Tatuk kepada Kompas.com.

Namun beberapa kendala harus dilalui. Selain karena kondisinya yang tak terawat, lokasi berdirinya bangunan ruko berbentuk segi lima ini juga tidak menguntungkan.

"Enggak ada orang yang mau lewat daerah sini kalau enggak ke Pasar Legi," ujar Tatuk.

Baca juga: Urai Kemacetan, Solo Bangun 15 Koridor Transportasi Massal

Untuk itu, Tatuk dan para pendiri kemudian mencari cara lain untuk mendatangkan massa. Mereka akhirnya mengajak beberapa orang lagi untuk bergabung.

Muara juga menyelenggarakan berbagai pertunjukan hiburanDok. House of Muara Muara juga menyelenggarakan berbagai pertunjukan hiburan
"Kami cari tim, teman-teman punya concern yang sama. Sebagian dari kami berhubungan dengan layanan event, musik, bisnis kreatif," ucap Tatuk.

Dengan tim dan manajemen yang telah dibentuk, mereka kemudian berusaha untuk mendatangkan massa ke Muara.

Berbagai acara pun digelar. Hasilnya, Muara Market menjadi salah satu tempat berkumpul anak muda di Kota Solo.

Selain itu, manajemen yang dibentuk juga mendapatkan untung dari penyewaan ruko. Sebanyak 31 dari 33 ruko yang tersedia berhasil disewakan untuk 28 tenant.

Mayoritas dari penyewa bergerak di bisnis kreatif.

Halaman:



Close Ads X