345 Kilometer Jalan Trans-Papua Sudah Diaspal

Kompas.com - 15/01/2019, 07:00 WIB
Pembangunan jalan Trans-Papua.Kementerian PUPR Pembangunan jalan Trans-Papua.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) terus melanjutkan pembangunan jalan Trans-Papua sebagai upaya meningkatkan konektivitas, membuka daerah terisolasi, dan mengurangi harga barang-barang, terutama di wilayah pegunungan.

Salah satu ruas jalan yang ditangani yaitu antara Jayapura ke Wamena sepanjang 575 kilometer.

Saat ini kedua jalan di wilayah tersebut sudah tersambung seluruhnya, dengan rincian 345 kilometer berupa aspal dan 230 kilometer masih berupa jalan tanah dan kerikil yang akan ditingkatkan kualitasnya secara bertahap.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan jalan Trans-Papua akan terus dilanjutkan dan ditargetkan tersambung seluruhnya tahun ini.

Baca juga: Lewat Trans-Papua, Merauke-Boven Digoel Kini Cuma 8 Jam

“Pembangunan jalan tersebut tidak semata menghubungkan Provinsi Papua dengan Papua Barat, tetapi juga membuka daerah yang terisolasi dan bisa menurunkan angka kemahalan," ujar Basuki dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/1/2019).

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XVIII, Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Osman Harianto Marbun menuturkan, ada delapan kabupaten di wilayah Pegunungan Papua dengan konektivitas semakin meningkat seiring terbukanya jalan Trans-Papua ruas Jayapura-Wamena.

Kedelapan kabupaten itu yakni Yalimo, Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Puncak (Sinak-Ilaga), Lanny Jaya, Memberamo Tengah, dan Nduga.

Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses jalan darat karena selama ini mereka memerlukan infrastruktur itu untuk mengirim logistik ke Kabupaten di Pegunungan Tengah. Dengan demikian, ongkos kirim yang mereka keluarkan akan berkurang.

Pembangunan jalan Trans-Papua.Kementerian PUPR Pembangunan jalan Trans-Papua.

Untuk diketahui, pengiriman barang dari Jayapura ke Wamena selama ini rata-rata biayanya Rp 13.000 per kilogram dengan menggunakan pesawat, sedangkan biaya angkut lewat jalur darat sekitar Rp 7.000 per kilogram.

Belum lagi dengan kondisi jalan tanah dan kerikil yang mudah rusak saat dilintasi kendaraan pengangkut barang-barang kebutuhan pokok yang bebannya berlebihan, apalagi saat musim hujan.

“Perbaikan sudah kami lakukan sejak awal Januari 2019,terutama di beberapa lokasi, yakni Km 276, Km 306, Km 310, dan Km 386. Untuk mempercepat pekerjaan, kami akan menambah peralatan,” ucap Osman.

Guna menjaga kesinambungan antara pembangunan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat yang ingin melewati ruas jalan itu, Kementerian PUPR pun sebelumnya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Yalimo dan kepolisian setempat untuk menutup ruas jalan tersebut. 

Namun, karena antusiasme warga untuk melintasinya, diberlakukan pembatasan izin melintasi ruas jalan yang dibuka seminggu sekali, yakni pada hari Minggu.




Close Ads X