Menjawab JK, Ini Komparasi Ongkos Konstruksi LRT Dalam dan Luar Negeri

Kompas.com - 14/01/2019, 18:00 WIB
Perkembangan pembangunan LRT Jabodebek Tahap I trase Cibubur-Cawang, Kamis (9/2/2017).Hilda B Alexander/Kompas.com Perkembangan pembangunan LRT Jabodebek Tahap I trase Cibubur-Cawang, Kamis (9/2/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Budi Harto mengklaim, biaya konstruksi proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) termasuk murah bila dibandingkan proyek lain sejenis.

Meski proyek sepanjang 44,4 kilometer tersebut dibuat dengan konstruksi layang atau elevated dengan berbagai pertimbangan, hal itu tidak serta merta membuat biayanya membengkak dari yang sudah dianggarkan.

"Bisa dibandingkan dengan proyek-proyek sejenisnya. Misalnya dibandingkan dengan MRT. MRT itu kalau enggak keliru per kilometernya Rp 1 triliun," kata Budi menjawab Kompas.com, Senin (14/1/2019).

Untuk diketahui, kebutuhan investasi LRT Jabodebek sebesar Rp 29,9 triliun. Dengan kebutuhan dana Rp 673 miliar per kilometer untuk pembangunan sarana dan prasarananya.

Bila dibandingkan dengan proyek LRT Jakarta yang digarap PT Jakpro, biaya konstruksi per kilometernya memang lebih murah.

Baca juga: Disebut JK Kemahalan, Ini Tanggapan Adhi Karya tentang LRT Jabodebek

LRT Jakarta yang hanya sepanjang 5,8 kilometer itu membutuhkan biaya Rp 1,08 triliun per kilometernya.

Sementara, bila dibandingkan dengan proyek LRT Palembang, biayanya memang terpaut lebih mahal.

Proyek LRT Palembang yang dikerjakan Kementerian Perhubungan sepanjang 23,4 kilometer dengan investasi Rp 11,3 triliun, membutuhkan Rp 484 miliar untuk konstruksi sarana dan prasarana per kilometernya.

Lantas bagaimana bila dibandingkan dengan biaya pembangunan LRT di luar negeri?

Budi menyebut, biaya pembangunan LRT Jabodebek juga masih lebih murah bila dibandingkan dengan sejumlah LRT di luar negeri.

LRT Manila di Filipina, misalnya membutuhkan Rp 904 miliar per kilometer, lalu LRT Kelana Jaya di Malaysia memerlukan Rp 807 miliar per kilometer.

Sementara itu, pembangunan LRT Lahore di Pakistan memerlukan Rp 797 miliar per kilometer dan LRT Dubai di Uni Emirat Arab memerlukan Rp 1,026 triliun per kilometer.

Adapun LRT Calgary di Kanada memerlukan anggaran  Rp 2,197 triliun per kilometer dan LRT Houston di Amerika Serikat sebesar Rp 688 miliar per kilometer.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik, biaya pembangunan LRT Jabodebek yang dinilai terlalu mahal. Selain itu, ia juga menyebut proyek itu kurang efisien karena dibangun bersebelahan dengan jalan tol.

Hal itu diungkapkan Kalla saat berpidato di hadapan anggota Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

"Membangun LRT ke arah Bogor dengan elevated. Ya buat apa elevated kalau hanya berada di samping jalan tol? Dan biasanya light train itu tidak dibangun bersebelahan dengan jalan tol, harus terpisah," ujar Kalla.

"Tapi bangunnya gitu. Itu kemungkinan, siapa konsultan yang memimpin ini? Sehingga biayanya (mahal) per kilometer. Kapan kembalinya kalau dihitungnya seperti itu?" ucap Kalla.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X